“Bapa Mengasihi Kita”: Renungan, Minggu 31 Maret 2019

0
2546

Hari Minggu Prapaskah IV (U)

Yos. 5 :9a, 10-12 ; Mzm. 34 :2-3,4-5,6-7 ; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3, 11-32.

Pada Minggu Prapaskah IV ini, kita diajak untuk merenungkan hal yang mengungkapkan kegembiraan. Lewat minggu persiapan batin ini, kita tentu perlu untuk tetap menyadari kerahiman Tuhan agar supaya apa yang menjadi misteri perayaan paskah nanti sungguh-sungguh diresapi dalam terang belas kasih Allah kepada kita. Untuk itu kita perlu menelusuri belas kasih Allah yang menjadi pusat permenungan pada hari ini lewat tiga hal pokok yang tampak dalam sabda Tuhan hari ini.

Hal yang pertama adalah suka cita Israel karena telah memasuki tanah terjanji sebagaimana kita dengarkan dalam bacaan pertama. Allah menuntun bangsa Israel melintasi belantara padang gurun serta memberi jaminan manna sebagai makanan sehari-hari, sampai akhirnya mereka memasuki tanah terjanji di Kanaan.

Dengan masuk ke tanah terjanji, Israel mengalami bahwa Allah telah memenuhi apa yang menjadi janji-Nya. Mereka menjadi bangsa yang bebas dan merdeka di tanah mereka sendiri. Bahkan mereka makan dari apa yang menjadi hasil tanah mereka. Inilah yang menjadi tanda kegembiraan Israel akan kesadaran jati diri mereka.

Hal yang kedua adalah kemurahan hati dan belas kasih Allah itu menjadi semakin nyata dan sempurna dalam diri Yesus Kristus. Inilah yang ditegaskan oleh rasul Paulus. Kita manusia sungguh telah didamaikan bahkan dibenarkan. Menjadi kegembiraan karena hidup kita yang lama tidak diperhitungkan lagi. Maka perlulah kita untuk senantiasa datang memberi diri kepada-Nya.

Dan hal yang ketiga adalah bagaimana Yesus pun mengajarkan sikap Allah yang menghendaki pertobatan orang berdosa dan Ia menyambut para pendosa yang bertobat dengan penuh sukacita serta menjadikan mereka sebagai manusia baru.

Bertolak dari ketiga permenungan ini maka kita bisa menyadari bahwa masa tobat ini sesungguhnya adalah saat yang berharga bagi kita secara konkret. Masa ini bukanlah sebuah formalisme liturgis melainkan menjadi pernyataan kasih dan kebaikan Allah laksana bapa yang baik yang mau menerima kita.

Kisah anak yang hilang ini sungguh menggambarkan penerimaan kembali yang tanpa batas dan tanpa syarat. Kita kembali memasuki rumah kita laksana Israel masuk ke tanah terjanji. Kita pun dibaharui karena Kristus sebagai yang sulung di dalam rumah Bapa.

Semoga lewat masa prapaskah ini, kita semakin membangun kesadaran akan kemungkinan penerimaan itu bagi kita manusia. Untuk itu perlulah kita melangkahkan kaki kepada Tuhan lewat segala doa dan ulah tapa kita yang merupakan tindakan pertobatan dan pembaharuan diri kita.

(P. Bayu Nujartanto, Pr)

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk. 15:32)

Marilah berdoa:

Ya Bapa, semoga kami semakin mantap dalam menantikan penebusan kami, dan menjadikannya sebagai bentuk hidup baru kami di rumah-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini