“Pura-Pura Baik”: Renungan, Selasa 12 Februari 2019

0
5278

Hari Biasa (H)

Kej. 1:20-2:4a; Mzm. 8:4-5,6-7,8-9; Mrk. 7:1-13.

Kata munafik berasal dari kata Yunani, hypokrites. Menunjuk pada orang yang biasanya menggunakan topeng. Seiring dengan perkembangannya, kata munafik dimengerti secara lebih luas yaitu, orang yang suka berpura-pura, bermuka dua untuk suatu tujuan tertentu. Sehingga, kemunafikan merupakan kata lain dari kepalsuan atau tindakan menipu orang lain.

Bacaan Injil yang kita dengarkan pada hari ini mengisahkan dengan jelas hal kemunafikan. Pertanyaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat kepada Yesus sebenarnya merupakan suatu kritik terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh para murid Yesus.

Mereka bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Orang Farisi dan ahli Taurat mempersoalkan aturan, adat istiadat yang sudah lama dihidupi. Pertanyaan ini dijawab dengan tegas oleh Yesus, karena Ia mengetahui kemunafikan mereka.

Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena mengetahui kepalsuan mereka. Mereka melakukan segala macam aturan, adat istiadat supaya mendapatkan pujian. Mereka menganggap diri paling suci, taat pada aturan namun penuh dengan iri hati dan menjadi batu sandungan bagi banyak orang.

Dalam kritik-Nya, Yesus mengutip nubuat Nabi Yesaya: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku”.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini memberikan inspirasi bagi kita untuk berefleksi. Terlebih khusus dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat realitas kehidupan kita setiap hari.

Sejauh manakah kita memuliakan Allah? Memuliakan Allah hanya dengan bibir saja tidak pernah cukup. Memuliakan Allah dengan puji-pujian, rajin beribadat dan taat pada aturan-aturan agama, tidaklah bermanfaat jika kita penuh dengan iri hati, kebencian kepada orang lain. Bahkan Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena hal ini.

Merenungkan hal ini, kita seharusnya menjauhkan diri dari sifat-sifat sedemikian. Kepalsuan, kemunafikan merupakan perbuatan yang tidak dilihat oleh mata manusia. Namun, tidak demikian dengan Tuhan. Ia mampu melihat sampai ke dalam hati kita.

Marilah, kita senantiasa melihat diri kita, agar kita tidak menjadi orang-orang Farisi yang lain. Hendaknya kita melakukan suatu kebaikan bukan untuk dipuji orang, melainkan karena perbuatan itu baik di mata Tuhan. Sebab, itulah cara yang benar untuk memuliakan Allah.

(Fr. Perdianus Poida)

“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (Mrk. 7:18)

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarlah kami melakukan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini