“Panggilan Allah”: Renungan, Minggu 10 Februari 2019

0
2535

Hari Minggu Biasa V (H).

Yes.6:1-2a, 3-8; Mzm.138:1-2a,2bc-3,4-5,7c-8; 1 Kor.15:1-11 (1 Kor.15:3-8,11); Luk.5:1-11.

Don’t judge a book by its cover. Jangan menilai buku dari sampulnya. Pepatah klasik yang sungguh relevan dengan hidup manusia. Baik atau buruknya tidak langsung nampak dari hal fisik. Bisa saja tampilan luar tidak baik tetapi isinya baik, atau sebaliknya. Hanya saja, orang sering jatuh pada penilaian dari sisi luaran saja.

Bacaan Kitab Suci hari ini menunjukkan bahwa Allah memanggil dan mengutus orang-orang pilihan-Nya bukan pertama-tama dilihat dari sisi luaran saja. Tidak melihat jabatan, kekayaan, pekerjaan, dan lain sebagainya, tetapi melihat dari kedalaman hatinya. Hal itu telah dibuktikan lewat panggilan nabi Yesaya. Ia menerima panggilan Allah meskipun memandang diri tidak layak. Allah tidak memandang sisi keburukan manusia. Yang terpenting adalah apakah mau menanggapi panggilan Allah dengan sungguh-sungguh. Nabi Yesaya telah menunjukkan kesungguhan hati atas panggilan Allah itu, “Ini aku, utuslah aku” (Yes. 6:8).

Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama. Ia dipanggil Allah di tengah-tengah pengalaman kelam hidupnya. Mengejar, menganiaya, dan membunuh pengikut Kristus, itulah yang diperbuatnya. Namun ia dipilih menjadi rasul dan membawa kesaksian kepada banyak orang tentang kasih karunia Allah. Ia memberi kesaksian, “Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia” (1 Kor.15:10). Suatu bukti nyata dari orang pilihan Allah yang mau mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh. Latar belakang hidup bukanlah alasan untuk tidak menanggapi panggilan Allah dengan tulus.

Panggilan Simon Petrus juga menggambarkan hal serupa. Latar belakang perkerjaannya bukanlah alasan utama untuk tidak mengikuti Yesus. Bahkan keputusasaan yang dialami karena gagal dalam pekerjaan (tidak menangkap apa-apa) membuat semangatnya menjadi lemah. Seakan meragukan apa yang dikatakan oleh Yesus. Namun Yesus hadir memberikan kegembiraan dengan hasil tangkapan yang melimpah. Satu bukti bahwa orang yang dipanggil Yesus tidak akan mengalami kesusahan terus-menerus, tetapi akan mengalami damai dan sukacita.

Satu hal penting yang perlu dilakukan sebagai pengikut Kristus adalah bertolak ke tempat yang lebih dalam. Artinya tidak tinggal diam di tempat dan menikmati semua kesenangan yang ada. Namun mau mengambil langkah untuk berpindah dari zona nyaman. Yakinlah jika kita mau melangkah ke tempat yang dalam bersama Yesus, bukan sekedar nyaman yang kita terima tetapi damai dan sukacita abadi.

(Fr. Made Pantyasa)

“Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (Luk. 5:4).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, tuntunlah aku selalu di jalan panggilan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini