“Mengasihi Plus”: Renungan, Minggu 24 Februari 2019

0
2854

Minggu Biasa VII (H)

1 Sam. 26:2,7-9,12-13, 22-23; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10,12,13:  1 Kor. 15:45-49; Luk. 6:27-38

Nelson Mandela  pada awalnya adalah orang biasa. Ia sempat dipenjarakan dan disiksa di dalam penjara. Namun akhirnya ia dibebaskan dan menjadi Presiden Afrika Selatan. Ketika ia dibebaskan, ia tidak pernah membenci musuh-musuhnya yang sempat memenjarakannya. Ia bahkan mengampuni mereka, orang-orang yang pernah membuatnya menderita.

Bacaan pada hari minggu ini menunjukkan bagaimana mengasihi musuh. Kisah Daud yang mengampuni Saul adalah suatu pengungkapan tentang bagaimana mencintai dan mengasihi musuh. Yesus dalam Injil hari ini mengajak setiap orang untuk mengasihi musuh. Yesus masuk dalam sebuah pemakluman akan kasih Allah yang tiada batasnya. Mengasihi musuh sebagaimana yang dikatakan Yesus adalah suatu kenyataan.

Santo Lukas menampilkan suatu dari pesan Yesus yakni: “Kasihanilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu”. Pesan dari Yesus ini sungguh sangat mendasar. Yesus mengungkapkan bahwa kemampuan untuk mengasihi musuh adalah sebuah pengungkapan akan kasih yang sungguh luar biasa. Yesus berkata, “Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikan juga pipimu yang lain”. Ajakan Yesus ini menjadi dasar hidup orang kristiani. Yesus menunjukkan bahwa mengasihi sesama bukan hanya teman saja, melainkan musuh sekalipun.

Mengasihi adalah kata yang paling banyak diungkapkan oleh manusia. Tindakan mengasihi dilakukan karena kita merasa dikasihi atau dicintai, dan bukan sebaliknya. Mengasihi musuh memang bukanlah hal yang mudah. Pengalaman hidup, menunjukkan bahwa sulit memberikan kebaikan dan kasih bagi orang yang membenci kita.

Betapa sulit bagi kita untuk mencintai teman yang suka mencelakakan kita. Betapa sulit kita mencintai dan mengasihi anggota keluarga kita yang sering mengecewakan kita. Betapa sulit bagi kita memberi maaf kepada orang yang sudah membuat kita menderita.

Namun disinilah panggilan Yesus bagi kita untuk berani mengasihi lebih; mengasihi musuh kita. Mengasihi kawan adalah hal yang biasa, namun mengasihi lawan adalah tindakan yang luar biasa. Dan sebagai orang kristiani kita dipanggil dan diutus untuk mengabarkan warta gembira dengan kasih yang tulus dan tanpa pamrih.  Kasih yang tak biasa, kasih yang mampu untuk memberi lebih dari biasanya. Seorang Kristen yang sejati hendaknya memberikan kasih yang plus. Mengasihi sebagai orang Kristiani itu haruslah plus. Mengasihi secara plus itu sifatnya unik dan itulah yang menjadi identitas hidup orang Kristiani.

(Fr. Juan Dotulong)

“Aku berkata: Kasihanilah musuhmu” (Luk. 6: 27).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku untuk semakin membuka hati untuk mengasihi sesama. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini