Hari Biasa (H)
Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13.
Ada seorang bapak yang baik dan di mata para tetangganya ia merupakan seorang yang memiliki hidup rohani yang amat baik, bahkan melebihi orang-orang yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Suatu ketika seluruh desa tempat tinggal bapak tersebut ditimpa bencana alam banjir. Seluruh rumah penduduk termasuk rumahnya tak luput dari bencana. Sampailah air menutupi bangunan rumahnya.
Sang bapak naik di atas genting sambil berharap dengan iman yang pasti Tuhan akan menyelamatkannya. Tim SAR dengan helikopter datang menjulurkan tali namun bapak menolak dengan jawaban “Tuhan sendiri akan datang menolongku”. Tetangga pun datang hendak menolong. Tapi dia memberikan jawaban yang sama. Akhirnya meninggallah ia dalam bencana itu. Ketika sampai di pengadilan terakhir ia protes kepada Tuhan karena tidak menyelamatkannya dari bencana. Tuhan menjawab, “Semua pertolongan telah Kuberikan lewat tetangga dan tim SAR, tetapi engkau sendiri menolak itu semua”.
Cerita di atas menggambarkan begitu kita sering beriman kepada Tuhan. Kita merasa hidup kita sama dengan orang farisi dalam bacaan Injil hari ini. Merasa sudah hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan memaksa Tuhan untuk memberikan tanda secara langsung. Orang-orang Farisi begitu menekankan aneka peraturan tertulis, logis dan kelihatan jelas. Tapi mereka kurang atau tidak mampu melihat sesuatu yang tak kelihatan.
Banyak fenomena kehidupan beriman kita menjadi semacam perdagangan. Ada barang ada uang, ada uang ada barang. Kehidupan keberimanan kita kepada Tuhan semata-mata hanya untuk membuat Tuhan memberikan tanda, dan ironisnya memaksakan tanda atau apresiasi dari Tuhan kepada kita karena sudah berbuat baik. Jika tanda itu tidak ada maka kita menganggap perbuatan baik itu sia-sia, sama seperti Kain dalam bacaan pertama yang mengeluh kepada Tuhan karena Tuhan tidak mengapresiasi persembahan yang diberikannya dan berujung kepada pembunuhan Habel adiknya karena cemburu.
Sikap orang-orang Farisi yang memaksa Tuhan inilah yang dikecam Yesus. Mereka tidak menyadari begitu banyak kebaikan yang Yesus berikan. Mereka masih meminta tanda. Maka membuka hati dan pikiran adalah hal yang terbaik untuk menjalani hidup beriman kita kepada Allah. Dalam keadaan dan situasi apapun, susah-senang, miskin-kaya, sehat sakit, kita tetap bersyukur atas apa yang kita miliki.
(Fr. Laurenzo Geraldo Lolong)
“Mengapa angkatan ini meminta tanda?” (Mrk. 8:12)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, buatlah kami selalu sadar akan kebaikan-Mu. Amin.











