“Iman yang Menyembuhkan”: Renungan, Senin 11 Februari 2019

0
3022

Hari biasa (H).

Kej. 1:1-19; Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,35c; Mrk. 6:53-56.

Saudara terkasih, dalam bacaan pertama yang telah kita dengarkan, penulis kitab Kejadian mengisahkan bagaimana Allah menciptakan alam semesta dari hari pertama, sampai hari kelima. Segalanya diciptakan dengan begitu “baik adanya”. Kemudian pada hari keenam Allah menciptakan manusia. Hal yang menarik bagi saya ialah sehubungan dengan penciptaan manusia, yakni  Kitab Suci menyebut: “Sungguh amat baik”. Hal ini berarti bahwa harkat dan martabat manusia berada di atas semua makluk ciptaan lain.

Jika dilihat dari kronologi penciptaan, Allah menciptakan alam semesta terlebih dahulu daripada manusia. Ini bukan berarti alam semesta lebih utama dari manusia. Melainkan agar manusia dapat hidup di bumi dan berkuasa atas alam ciptaan serta memelihara alam ciptaan. Dengan demikian dapat kita lihat bahwa manusia adalah pribadi istimewa di mata Allah.

Dalam bacaan Injil hari ini, pengistimewaan keberadaan manusia tampak nyata dalam diri Yesus Kristus. Penginjil Markus menampilkan bagaimana Yesus sangat memperhatikan keberadaan manusia, terutama soal kesehatannya. Yesus menghendaki  agar manusia selalu berada dalam kondisi sehat, baik secara jasmani maupun rohani seperti semula yakni pada keadaan “sungguh amat baik” itu. Karena itu, di mana pun Ia pergi, baik di desa-desa, kota-kota, maupun pasar, selalu tergerak hati-Nya oleh belas kasihan untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit.

Yesus tidak mengecualikan dan mengecewakan siapa pun, apalagi meninggalkan kita yang berada dalam kesusahan. Yesus menyembuhkan dan membebaskan kita dari kesusahan dan penderitaan, asal saja kita mau menemui-Nya. Hal ini terjadi berkat pengenalan akan Yesus sebagai sabda kebenaran dan jaminan kehidupan kekal. Kita dapat memperoleh rahmat Allah itu, jika kita benar-benar mau mencari dan mengenal  Yesus. Pengenalan akan kebenaran sabda Allah inilah, yang memungkinkan  kita memperoleh kembali keluhuran martabat, yang telah diberikan Tuhan dengan “sungguh amat baik” itu. Pemulihan ini menjadi alasan bagi kita untuk selalu bersyukur dan memuji keagunggan Allah.

Hari ini Gereja Katolik memperingati hari orang sakit sedunia. Melalui perayaan ini kita diajak untuk berdoa secara khusus bagi sesama yang sedang mengalami sakit, baik jasmani maupun rohani. Semoga lewat doa-doa kita, mereka mau mencari Yesus dan membawa segala pergumulan hidup mereka pada-Nya. Dengan demikian, mereka memperoleh rahmat kesembuhan dari Allah sendiri.

(Fr. Agus Udenge)

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” (Mzm. 104:1).

Marilah berdoa:

Ya Allah, mampukan aku untuk menjaga keluhuran martabat yang Kau anugerahkan padaku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini