“Doa dan Kebijaksanaan”: Renungan, Senin 25 Februari 2019

0
2131

Hari Biasa (H)

Sir. 1:1-10; Mzm. 93:1ab, 1c-2,5; Mrk. 9:14-29

Bacaan pertama yang kita dengarkan mengisahkan tentang “segala kebijaksanaan dari Tuhan asalnya, dan ada pada-Nya selama-lamanya”. Maksud dari kutipan ini yang mestinya kita jadikan sebagai satu petunjuk untuk menempuh cara hidup dan cara bertindak terhadap berbagai persoalan apapun. Artinya, manusia yang lemah, punya keterbatasan hidup seringkali rapuh, kiranya menghantar kita pada kebijaksanaan. Kebijaksanaan bagi kita mungkin dapat diciptakan lewat perkumpulan dan kebersamaan, sehingga dalam kebersamaan itu, kita saling berkomunikasi, saling mengungkapkan isi hati atas berbagai rahmat kehidupan yang telah dianugerahkan Allah atau dengan cara berdoa untuk memohon kebijaksanaan dari Tuhan.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk bermenung tentang sebuah kebergantungan. Artinya, pengalaman hidup rohani kita, prestasi atau kemampuan yang kita miliki kadang menuntun kita kepada sebuah kehidupan yang tidak peka terhadap hidup kerohanian yang sesungguhnya. Situasi ini pun dialami oleh para murid saat mengusir roh jahat dari diri seorang anak yang bisu. Mereka merasa terkejut dan heran karena gagal mengusir setan dari seorang anak yang yang bisu ini. Namun di balik peristiwa yang dialami, mereka tidak sadar bahwa mereka tidak mampu mengusir roh jahat itu karena bersandar pada kekuatan mereka sendiri. Maka dari sinilah para murid ragu, cemas dan bimbang karena tidak berdoa kepada Allah untuk mendapatkan kekuatan.

Tindakan para murid ini sangat berbeda denga apa yang dikatakan oleh ayah sang anak tadi. Ia menyatakan dengan jujur bahwa ia ingin bergantung dan percaya kepada Yesus. Dengan demikian, apa yang sebenarnya kita cari dapat kita temukan dalam hidup kerohanian yang merupakan suatu pemulihan akan kemurnian hubungan kita dengan Tuhan.

Oleh sebab itu, cara yang tepat untuk mendapat kuasa perutusan dari Allah sendiri yakni, perlu adanya komunikasi intens dengan Tuhan. Kita perlu membangun doa pribadi dengan Allah, agar kita sungguh-sunggu bersatu dengan-Nya. Dari persatuan itu akan mengalir kuasa yang berasal dari pada-Nya. Periksalah hubungan kita dengan Allah dan sadari bahwa hanya ada satu kekuatan untuk melepaskan kita dari belenggu dosa dan Iblis, yaitu doa.

(Fr. Andarias Lalin)

“Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu kemari!” (Mrk. 9:19).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami bergantung dan percaya akan kuasa-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini