“Belum Mengertikah Kamu”: Renungan, Selasa 19 Februari 2019

0
2421

Hari Biasa (H)

Kej. 6:5-8; 7:1-5, 10; Mzm. 29: 1a, 2, 3ac-3, 3b, 9b-10; Mrk. 8:14-21.

Di pelbagai tempat, kita dapat menemukan sejumlah iklan atau brosur yang berisi peristiwa mengenai mujizat penyembuhan orang sakit. Hal ini diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin disembuhkan sehingga dapat menghadiri acara tersebut. Mereka akan dijamah dan memperoleh kesembuhan. Sehingga banyak orang berbondong-bondong datang, semata-mata agar mereka melihat dan menyaksikan peristiwa mujizat penyembuhan tersebut.

Dalam bacaan Injil diceritakan bahwa para murid sebenarnya mengalami dilema yang besar. Meski mengaku diri sebagai murid Yesus, tetapi ternyata tindakan dan perbuatan Yesus masih belum mereka pahami dengan benar. Yesus memperingati mereka, supaya berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.

Pernyataan Yesus ini merujuk kepada sikap dan tindakan orang Farisi dan Saduki yang selalu meminta tanda yang kelihatan. Mereka tidak akan percaya bila tidak melihat tanda yang dibuat oleh Yesus. Mereka berpandangan bahwa bisa jadi tindakan Yesus berasal dari si jahat. Maka, Yesus tidak mau memberikan tanda hanya supaya mereka melihat dan percaya. Sebab bukan itu tujuan dari tindakan Yesus. Oleh karena mereka mementingkan hal lahiriah dan material saja. Maka, Yesus memberi tanda awas kepada para murid supaya tidak berlaku demikian. Tapi ternyata, mereka masih juga terjerumus pada pola pikir demikian.

Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Atau telah degilkah hatimu? Pertanyaan Yesus ini sebenarnya mau mengarahkan perhatian dan pikiran para murid pada mujizat penggandaan roti yang telah dibuat Yesus. Peristiwa itu dikerjakan bagi mereka dan banyak orang untuk menunjukkan bahwa Allah dapat bertindak melebihi pikiran dan tindakan manusia. Bahwa rahmat Allah bekerja tanpa harus ada campur tangan manusia. Rahmat Allah bekerja justru melalui peristiwa yang tak terduga oleh manusia. Sehingga iman dan kepercayaan itulah yang utama.

Pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita. Belum mengertikah kamu? Bahwa Allah tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya terkurung dalam penderitaan. Ia tidak pernah melupakan apalagi meninggalkan anak-anak-Nya sendirian dan menderita. Rahmat Allah selalu bekerja setiap waktu dan segalanya adalah mungkin.

Maka, Yesus mengajak kita supaya tidak usah mencari-cari mujizat di luar, hanya agar kita melihat dan percaya. Kebenaran iman dan kepercayaan kita pada Allah membuat hidup kita lebih bersemangat, karena percaya rahmat Allah bekerja nyata dalam hidup kita. Sehingga kita tidak usah khawatir dan mencari-cari tanda lahiriah supaya percaya.

      (Fr. Yanto Kansil)

Masihkah kamu belum mengerti?” (Mrk. 8:21).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami agar percaya pada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini