“Allah Mempersatukan”: Renungan, Jumat 1 Maret 2019

0
2968

Hari Biasa (H)

Sir. 6:5-17; Mzm. 119:12,16,18,27,34,35; Mrk. 10:1-12.

Perceraian antara sepasang suami-isteri yang telah menikah bukanlah suatu perbuatan yang dikehendaki oleh Allah. Mengapa demikian? Allah adalah Ia yang mempersatukan manusia dan bukan menceraikan. Karena, “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”.

Injil hari ini mengisahkan perceraian yang tidak dikehendaki Allah. Ketika sedang mengajar orang banyak, Yesus kemudian ditanyai oleh sekelompok orang Farisi yang datang kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya kepada Yesus: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Walaupun tidak secara langsung Yesus mengucapkan kata “tidak” kepada orang farisi, tetapi penjelasan-Nya kepada mereka telah menunjukkan bahwa Ia tidak mengiakan perceraian di antara sepasang suami-isteri yang sudah sah dalam hal perkawinan. Alasan mengapa Yesus tidak mengiakan perceraian tersebut terjadi karena pada awal mula dunia dijadikan, Allah telah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sehingga mereka menjadi satu daging.

Sesungguhnya jika bertolak dari Injil hari ini, satu hal yang mau dikatakan yaitu bahwa tindakan perceraian adalah suatu perbuatan yang tidak dikehendaki Allah. Karena kehendak Allah adalah agar manusia, laki-laki dan perempuan, hidup dalam keserupaan dengan Allah yang memiliki cinta yang tak terbatas dan menjadi seperti Allah, kudus adanya. Kekudusan dalam hubungan suami-isteri mengungkapkan suatu kerelaan dan kesediaan untuk mencintai pasangan apa adanya seumur hidupnya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Sebab mereka bukan lagi dua tetapi telah menjadi satu daging dalam kekudusan. Dengan demikian, Gereja sebagai satu persekutuan yang kudus dengan Allah mau menegaskan bahwa ketakterceraian adalah sifat utama dalam perkawinan iman katolik. Karena Yesus telah bersabda: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”.

Dunia sekarang ditandai dengan konsumerisme, hedonisme, materialisme dan sebagainya. Hal-hal demikian dapat menghancurkan ikatan perkawinan yang dibangun atas cinta. Orientasi kehidupan perkawinan tidak menjadi jelas bila prioritas diberikan kepada hal-hal di atas. Sebaliknya, jika cinta menjadi dasar kehidupan berkeluarga maka ikatan kekeluargaan semakin erat. Walaupun demikian, cinta  sering dirongrong oleh pelbagai faktor. Baik internal maupun eksternal. Oleh sebab itu, kita  harus selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Karena Dialah sumber kekuatan dan kebahagiaan.

(Fr. Chrisanctus Sadrack)

“Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”

(Mrk. 10:9).

Marilah berdoa:

Tuhan, lindungilah selalu keluarga yang meletakkan harapan mereka pada-Mu. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini