“Ketaatan”: Renungan, Senin 21 Januari 2019

0
3105

Pw. Sta. Agnes, PrwMrt (M)

Ibr. 5:1-10; Mzm. 110:1.2.3.4; Mrk. 2:18-22

Saudara terkasih, iman merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah. Penyerahan diri kepada Allah menunjukkan ketaatan iman akan belas kasih Allah. Ketaatan kepada Allah, karena percaya bahwa Ia akan memberikan segala sesuatu yang diberikan. Allah senantiasa memperhatikan setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus melukiskan imam besar yang dipilih oleh Allah untuk mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Para imam yang dipilih oleh  sebagai perantara antara manusia dengan-Nya. Mereka yang dipilih, bukan hanya mempersembahkan korban yang berasal dari umat, namun juga dari dirinya sendiri. Para imam semestinya mencontohi Yesus Kristus sebagai imam agung yang mempersembahkan diri-Nya, karena taat kepada Bapa-Nya. Ketataan kepada Bapa inilah yang membuat Yesus mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan dunia.

Bacaan Injil hari ini menjelaskan jawaban Yesus kepada murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi. Kedua golongan tersebut menanyakan mengapa murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid Yesus tidak? Jawaban Yesus merupakan penegasan bahwa keselamatan sejati sebenarnya ada di dalam hati, bukan terletak dalam setiap praktek yang bersifat lahiriah semata. Kebahagiaan yang sejati berasal dari hati di saat mengalami hal-hal sulit. Mengutamakan kebahagiaan yang berasal dari dalam hati akan bertahan dibandingkan dengan mengutamakan aturan lahiriah dalam kehidupan. Kebahagiaan menunjukkan kehadiran Allah  di dalam hati setiap orang. Kebahagiaan yang dimaksudkan, yakni keselamatan yang berasal dari Allah. Keselamatan bukan ditemukan pada saat menjalankan aturan, seperti halnya praktek puasa. Namun, keselamatan terutama terletak dalam hal mengasihi Allah di atas segalanya.

Pada hari ini Gereja Katolik  memperingati Santa Agnes yang merupakan seorang martir Kristus. Santa Agnes adalah seorang putri bangsawan Roma yang lahir sekitar tahun 29 dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristiani. Ia wafat sebagai martir saat berusia tiga belas tahun. Ia dibunuh, karena dipaksa menikah dengan seorang putra dari Prefek Sempornius. Ia dipaksa untuk menikah dan meninggalkan imannya, namun ia mengatatakan demikian, “Aku telah mempunyai seorang kekasih. Ia mencintaiku dan aku mencintai-Nya. Dialah Yesus Kristus”. Ungkapan tersebut menggambarkan tanda ketaatan Santa Agnes kepada Allah.

Saudara terkasih, hal ketaatan seringkali belum secara total dipraktekkan dalam aktivitas kehidupan harian. Salah satu alasannya, yakni ada sifat atau sikap emosional yang mementingkan diri sendiri dan tidak ingin untuk menerima dan mengikuti kebaikan yang ditawarkan oleh orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa seorang belum bisa keluar dari lingkaran kenyamanan. Bacaan-bacaan hari ini dan kisah hidup dari Santa Agnes mengajak kita untuk taat kepada Allah. Ketaatan itulah yang mengantar kita kepada kebahagiaan.

                          (Fr. Mario Rumsory)

“Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula ” (Mrk. 2:22).

Marilah berdoa:

”Ya Tuhan, semoga hari ini aku  diberikan kekuatan untuk semakin taat terhadap perintah-Mu yang membawakan keselamatan. Amin.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini