Hari biasa (H)
Ibr. 4:12-16; Mzm.19:8-9,9,10,15; Mrk. 2:13-17.
Bacaan Injil hari ini menggambarkan Yesus sebagai seorang tabib yang menyembuhkan orang-orang sakit. Dikisahkan bahwa ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi mengkritik Yesus yang makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Yesus kemudian membungkam ahli-ahli Taurat dan golongan Farisi yang suka menilai seseorang berdasar status atau pekerjaan. Pemungut cukai pada zaman Yesus dinilai sebagai seorang yang berdosa dan kafir, dikarenakan menagih pajak yang berlebihan. Oleh karena itu, pekerjaan ini dipandang sebagai pekerjaan yang buruk dan dibenci oleh rakyat.
Dengan berbagai alasan, banyak orang membenci pekerjaan ini. Tetapi Yesus tidak membenci sama sekali. Hal ini menggambarkan bahwa, Yesus tidak menilai seseorang dari pekerjaan atau status, melainkan kesanggupan untuk selalu membaharui diri dan percaya sepenuhnya kepada-Nya. Hal itu kemudian terlihat dalam diri Lewi, anak Alfeus. Ia percaya bahwa keselamatan itu berasal dari Yesus. Yesus Memanggil Lewi dengan berkata: “Ikutlah Aku”. Tanpa banyak alasan ia pun langsung berdiri dan mengikuti Yesus. Pemberian diri seutuhnya dan kesanggupan merubah diri ada dalam diri Lewi tersebut. Buktinya, ia langsung memberikan diri dan mengikuti Yesus. Bukan hanya itu, Lewi juga mengadakan suatu syukuran sebagai tanda tobat yang ia peroleh dari Yesus sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Dengan demikian, kita secara tak langsung sama seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang suka menghakimi dan mengkritik orang karena mereka menganggap diri lebih benar. Oleh karena itu, kita harus belajar dari Yesus sendiri. Yesus tidak membeda-bedakan orang lain dan memanggil orang bukan berdasarkan statusnya. Ia selalu terbuka bagi orang yang ingin membaharui diri dan percaya seutuhnya kepada-Nya. Ia memanggil orang-orang sedemikian, sebab bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
(Fr. Frantosius Kadoang)
“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang yang berdosa” (Mrk. 2:17).
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, mampukanlah aku dalam mengikuti-Mu. Amin.











