“Jangan Sebarkan Hoax”: Renungan, Kamis, 3 Januari 2019

0
1954

Hari Biasa Masa Natal (P)

1 Yoh. 2:29-3:6; Mzm. 98:1,3cd-4,5-6; Yoh. 1:29-34

Menjadi seorang saksi berarti mengatakan yang benar. Tapi supaya perkataan itu benar, perlu ada pengenalan terhadap subjek yang menjadi inti kesaksian. Pengenalan berkaitan dengan panca indera (melihat dan mendengar) dan kedekatan relasi (hidup bersama).

Dalam Injil, Yohanes Pembaptis digambarkan sebagai saksi sejati. Ketika melihat Yesus, ia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kesaksian ini bukanlah kesaksian palsu, dari mana ia bisa mendapatkan keuntungan yang banyak. Yohanes bicara secara otentik tentang Yesus karena memiliki pengenalan yang mendalam akan Dia. Dia tahu siapa Yesus dan tugas perutusan-Nya. Dia adalah nabi yang berbicara atas nama Allah. Lewat penglihatannya, ia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Mesias, yang menebus dan menyelamatkan manusia. Yesus diurapi oleh Allah sendiri melalui Roh-Nya.

Kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada zaman sekarang, membuka peluang bagi kita untuk mengakses kebenaran kepada banyak orang. Dengan kata lain, kehadiran IPTEK membantu kita untuk memberi kesaksian kepada orang lain tanpa batasan ruang dan waktu. Namun demikian,  sebaliknya banyak hal tidak baik yang kita jumpai. Misalnya,  hoax. Konsekuensi dari hal ini sangat fatal yakni kepalsuan atau penipuan terhadap banyak orang.

Injil hari ini menampilkan sosok Yohanes bagi kita. Yohanes adalah seorang nabi sejati. Ia tidak sedikitpun menciptakan kebohongan lewat kesaksiannya. Apa yang ia tahu,  lihat, dengar, disampaikan kepada murid-muridnya. Ia tidak mencari keuntungan dari kesaksian itu. Tujuannya agar supaya Kristus dapat dikenal, diikuti, didengar dan dipercaya, sehingga keselamatan yang dijanjikan Allah dapat dialami lewat Kristus.

Lewat sakramen pembaptisan, kita mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai nabi. Mewartakan Tuhan adalah tugas utama kita. Mewartakan Tuhan bisa lewat tutur kata pun tindakan kita. Agar kesaksian kita adalah kesaksian yang benar, kita harus mencontohi teladan Yohanes Pembaptis. Kita mesti punya pengenalan yang mendalam tentang Kristus. Mengenal-Nya lewat membaca Kitab Suci dan lewat relasi yang intim dengannya melalui doa-doa kita. Lewat pengenalan itu, kita dapat menjadi saksi Kristus yang sejati.

 (Fr. Rio Rumlus)

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia” (1 Yoh. 3:6).

Marilah Berdoa:

Tuhan, bantulah kami agar  kami mampu menjadi saksi-saksi-Mu yang sejati. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini