“Aturan dan Raja”: Renungan, Selasa 22 Januari 2019

0
2143

Hari biasa (H)

Ibr. 6:10-20; mzm. 111:1-2,4-5,9,10c; Mrk. 2:23-28

Aturan dibuat untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Namun dalam kondisi tertentu aturan itu dapat dilanggar.

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang orang-orang Farisi yang bertanya kepada Yesus mengenai perbuatan para murid yang memetik bulir gandum pada hari Sabat. Mereka berpegang pada aturan dalam merayakan hari Sabat yang salah satunya yakni berpuasa. Namun, Yesus menjawab mereka dengan membenarkan perbuatan para murid. Ia memberikan contoh yakni Daud bersama para pengikutnya yang memakan roti yang terdapat di dalam bait Allah, yang seharusnya hanya dimakan oleh imam. Perbuatan Daud bersama para pengikutnya maupun para murid Yesus itu didasari oleh satu alasan yakni hidup.

Jawaban Yesus ini mau menunjukkan bahwa memang pada dasarnya aturan itu dibuat untuk menjadikan hidup manusia menjadi lebih baik. Namun dalam kondisi tertentu juga aturan itu dapat dilanggar. Yesus mau mengatakan bahwa hari Sabat diadakan oleh Allah untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.  Di sini bukan manusia yang bergantung pada hari Sabat melainkan hari Sabat itulah yang bergantung pada manusia. Karena ketergantungan itu maka manusia menjadi raja atas hari Sabat dan secara otomatis Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.

Manusialah yang mengatur hari Sabat itu bukan hari Sabat itu yang mengatur manusia. Anak Manusia yang dimaksudkan oleh Yesus adalah diri-Nya. Allah pencipta menjelma menjadi manusia dan dilahirkan ke dunia melalui Maria ibu-Nya. Maka selain Ia adalah raja di atas segala raja karena kodrat keallahannya itu, kemanusiaannya juga adalah raja atas hari Sabat. Dia adalah raja maka semua orang menaruh pengaharapan kepada-Nya dan Ia membalasnya dengan janji sebagaimana dimaklumkan dalam bacaan pertama yang mengungkapkan janji dan sumpah Allah kepada Abraham.

Bentuk dari pengharapan itu sendiri adalah pelaksanaan kasih dan melayani satu dengan yang lain. Pemenuhan janji itu adalah keselamatan dan keselamatan itu sendiri adalah Allah yang turun ke dunia dalam wujud manusia yang dilahirkan oleh Maria ibu-Nya. Dia sudah menjadi  manusia untuk menunjukkan betapa luhurnya kehidupan manusia. Di atas kehidupan manusia inilah hukum atau aturan mestinya dibangun. Di atas kehidupan manusia ini pula pelayanan kita satu kepada yang lain didasarkan.

(Fr. Lambertus Batseran)

Jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk. 2:28).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah kami agar selalu menghargai setiap kehidupan manusia dengan menghormati dan melayani sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini