Hari Biasa Pekan II Adven (U)
Yes. 35:1-10; Mzm. 85:9ab-10, 11-12,13-14; Luk. 5:17-26
Seorang Petani selalu berusaha memberikan perawatan yang terbaik bagi tanaman-tanaman yang ia miliki di ladang. Bahkan tanaman yang sudah layu pun dibuatnya segar kembali agar bisa dipanen pada saat waktu panen tiba. Selain itu, petani juga senantiasa menunggu waktu yang tepat untuk panen. Di saat inilah semangat si petani terus menerus membara. Dia dengan tekun merawat, menyirami tanamannya dengan air, memupuk, bahkan memperhatikan satu per satu tanaman yang ada di ladangnya. Semua dilakukannya dengan totalitas. Dia benar-benar memberikan pelayanan dirinya untuk suatu tujuan di depan.
Dalam bacaan Injil diceritakan ketika Yesus sedang mengajar di suatu tempat datanglah beberapa orang yang membawa serta orang lumpuh di atas sebuah tempat tidur. Sekelompok orang ini ingin membawa orang yang lumpuh tersebut kepada Yesus. Tetapi karena begitu banyak orang di tempat itu, maka mereka tidak dapat membawanya masuk. Maka mereka masuk lewat atap rumah dan meletakkan si lumpuh di tengah-tengah kerumunan.
Yesus melihat orang itu dan berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan seketika itu juga sembuhlah orang lumpuh itu. Di sini kita dapat melihat dengan jelas bagaimana sebuah usaha yang disertai dengan totalitas tidak akan mengecewakan. Iman yang besar tentu dapat membawa karya keselamatan. Dan sebaliknya iman yang hanya setengah hati saja membuat orang jauh daripada Kerajaan Allah yang membawa keselamatan.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama juga mengatakan tentang keselamatan bagi umat Tuhan yang dengan setia berusaha dan menantikan kedatangan Penyelamat. Tekadang saat menantikan sesuatu, keadaan batin manusia sering menjadi dilematis. Bahkan ada yang beranggapan bahwa menantikan merupakan hal yang membosankan. Mungkin membuang waktu, tenaga, bahkan usaha. Sikap yang seperti ini secara perlahan mulai merugikan diri kita.
Allah selalu menginginkan umatnya untuk setia menantikan kedatangan Penyelamat umat manusia. Ketika kita dihadapkan pada suatu pekerjaan, kita harus bisa mengatakan pada diri kita sendiri untuk berusaha dengan keras dalam iman dan pengharapan. Sebagai umat Allah yang hidup dalam naungan Roh Kudus, manusia haruslah mampu untuk setia menantikan karya penyelamatan Allah.
Oleh karena itu, pada masa penantian ini, marilah kita mempersiapkan hati dan pikiran kita. Serta memberikan diri kita seutuhnya untuk membantu karya kasih Allah di dunia ini. Jadilah perpanjangan karya kesalamatan Allah dengan terus berusaha melakukan yang terbaik di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat. Agar ketika kedatangan Sang Juruselamat ke dunia telah tiba, usaha dalam penantian yang telah kita lakukan memiliki makna yang berarti bagi kehidupan saat ini dan yang akan datang.
(Fr. Marcelino Ronaldo)
“Hai saudara dosamu telah diampuni” (Luk. 5: 20).
Marilah berdoa:
Tuhan, sertailah umat-Mu dalam masa penantian ini, agar kami selalu setia dan berusaha memberikan yang terbaik bagi gereja dan dunia. Amin.











