“Penantian yang Berarti”: Renungan, Senin 24 Desember 2018

0
3600

Sore Menjelang Hari Raya Natal (P)

Yes. 62:1-5; Mzm. 89:4-5,16-17,27,29; Kis. 13:16-17,22-25; Mat. 1:1-25 (Mat. 1:18-25)

Peristiwa kelahiran merupakan suatu hal yang begitu istimewa dalam kehidupan manusia. Kelahiran menandakan suatu kehidupan baru sekaligus juga sebagai suatu pengharapan baru. Akan tetapi sebelum menyaksikan peristiwa kelahiran itu, pasti pertama-tama akan didahului dengan masa penantian. Dalam masa penantian tersebut banyak hal yang diharapkan terutama tertuju pada sosok bayi yang akan dilahirkan itu.

Sehubungan dengan masa penantian tersebut, pada hari ini masa penantian kita umat beriman itu telah sampai pada puncaknya. Sosok yang kita harapkan, kita dambakan dan andalkan akan hadir di tengah-tengah kita. Dialah Yesus Kristus Sang Juru Selamat yang akan dilahirkan oleh perawan Maria. Memang peristiwa kelahiran tersebut tidak kita saksikan secara langsung, akan tetapi  melalui peristiwa Vigili Natal kita diajak kembali untuk mengenang  kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Selama empat minggu dalam lingkaran masa Adven, kita bersama-sama bermenung dalam menantikan kehadiran Penyelamat kita dan penantian kita tersebut tidaklah sia-sia.

Seperti apa yang dikisahkan dalam bacaan Injil bahwa, “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan dia Imanuel yang berarti “Allah menyertai kita”. Selain dari pada itu, seruan ini jauh sebelumnya telah dikumandangkan dan diperdengarkan kepada kepada bangsa-bangsa yang senantiasa taat serta selalu menantikan kehadiran Sang Juruselamat ini. Itu secara jelas dikatakan dalam kitab Yesaya yakni, akan datang dengan segera keselamatan bagi Sion.

Selain penantian tersebut, ada juga satu peristiwa yang diperdengarkan kepada kita yakni, sikap setia Santo Yusuf yang mau menerima Maria apa adanya. Sikap setia inilah yang sebenarnya hendak diajarkan kepada kita. Kita terkadang seperti santo Yusuf sering ragu-ragu dan tidak yakin dengan apa yang menjadi dasar pilihan kita. Akan tetapi pada hari ini juga, sikap keragu-raguan tersebut telah dihapuskan. Kita telah diberikan penyelamat, artinya bahwa lewat peristiwa ini, kita telah memperoleh suatu kehidupan baru, suatu harapan baru dalam menelusuri perjalanan hidup kita. Beranilah dan jangan takut, sebab Sang juru selamat kita sudah datang.

(Fr. Brelianus Susu Ndana)

“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku agar lebih setia dalam segala hal. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini