“Orang Tersakiti”: Renungan, Jumat 14 Desember 2018

0
2713

Pw S. Yohanes dr Salib, ImPujG (P)

Yes. 48:17-19; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mat. 11:16-19.

Saudara terkasih, mungkin sebagai pemimpin, guru, atau orang tua, kita pernah mengalami ditolak. Kita ingin membuat suatu kebaikan atau sebagai pemimpin misalnya membuat suatu program yang membangun, tetapi tidak didengarkan. Sungguh sakit bila hal itu disertai dengan penghinaan dan hujatan. Kita menjadi serba salah di mata mereka. Mengapa? Orang kadang kala tidak melihat kualitas apa yang ada dalam diri kita, tetapi melihat siapa diri kita. Pandangan seperti ini membuat kita dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Sama halnya dengan Yesus dan Yohanes Pembaptis yang mengalami hal tidak mengenakan. Umat Allah rupanya tidak menghiraukan usaha Allah untuk menuntun mereka pada keselamatan kekal melaui Yesus dan para nabi. Kadangkala kita pun terjerat dalam sikap ini; memiliki sikap hati yang tertutup, sehingga tidak peduli dengan ajakan apa pun yang membangun. Kita malah menghina mereka yang mungkin diutus Tuhan untuk kita. Sikap apatis seperti inilah yang dikecam Yesus dalam bacaan Injil hari ini. “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak mau menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (ay 17).

Saudara-saudari terkasih, saya yakin kita pasti pernah mengalami seperti yang dialami dua tokoh di atas. Kita juga bisa mencontohi Santo Yohanes dari Salib yang hari ini kita rayakan peringatannya. Meskipun berhasil membangun biara dimana-mana sebagai sarana untuk menjalankan hidup suci, ia malah menuai kecaman. Ketika terjadi pergolakan antara kaum pembaharu dengan anggota ordo yang menentang pembaharuan,  ia mengalami berbagai tekanan dari rekan-rekannya. Ia dipermalukan, diculik, dipenjara, diperlakukan secara brutal dan mengalami isolasi yang berat. Tetapi dengan kesabaran sambil berserah diri kepada Tuhan ia menghadapi itu semua. Pengalamannya bersama Tuhan membuatnya kuat. Tuhan tidak membiarkan kita berjalan sendiri bila kita bersandar pada-Nya.

Dalam kehidupan, sering kita ditolak, tidak didengarkan, bahkan sampai dihina atau dilecehkan. Kita mengalami hal itu mungkin karena kita belum dikenal atau kita hanya orang bawahan saja. Kita akhirnya menjadi sangat tersakiti. Tetapi, kita juga perlu mendengarkan mereka dan biarkan rasa benci, cuek dan amarah mereka meluap terhadap kita. Setelah air laut pasang, pasti akan terjadi surut. Setelah hati mereka mulai tenang, barulah dengan berlahan kita masuk mengambil hati mereka. Tunjukanlah eksistensi kita dengan segala kualitas yang kita miliki tetapi dengan hati yang sabar dan dingin.

(Fr. Ignatius Kisa)

Akulah Tuhan, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kau tempuh” (Yes. 48:17).

Marilah berdoa:

Tuhan, kuatkanlah aku bila aku lemah, genggamlah tanganku bila bila aku jatuh. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini