“Keluarga”: Renungan, Minggu 30 Desember 2018

0
4446

Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, Yusuf (P)

1Sam 1:20-22,24-28; Mzm. 84: 2-3. 5-6.9-10; 1 Yoh. 3:1-2.21-24; Luk. 2:41-52.

Keluarga merupakan komunitas terkecil dalam kehidupan masyarakat dan Gereja. Dalamnya, orang-orang mulai belajar mengenal diri dan membangun kehidupan sosialnya. Terlebih, terjadi dalam diri anak-anak yang dilahirkan. Seringkali keluarga digambarkan sebagai “sekolah pertama”, dimana ajaran-ajaran iman, pengharapan dan cinta kasih dapat ditanamkan di dalamnya. Keluarga sering pula digambarkan sebagai suatu “seminari” atau tempat awal mulai bertumbuhnya suatu panggilan hidup. Seorang anak akan bertumbuh dan berkembang dengan bimbingan dan pengajaran orangtua atau anggota keluarganya.

Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yusuf. Dikatakan “Kudus” sebab, Yesus Kristus telah lahir dalam keluarga ini. Suatu keluarga yang terbentuk dari orang-orang yang percaya dan mau bekerja sama dengan Allah dalam karya keselamatan-Nya bagi manusia. Yesus kecil mulai tumbuh dalam asuhan Yusuf dan Maria, makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya. Hal itu tampak dalam bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini.

Ketaatan beragama yang dipegang oleh orangtua Yesus, membuat Yesus terlibat dalam kebiasaan keluarga-Nya yang tiap tahun  pergi ke Yerusalem merayakan Paskah. Yesus tampil sebagai sosok anak kecil yang begitu cerdas di hadapan alim ulama, sehingga membuat orangtuanya tercengang melihat-Nya. Jawaban-Nya ketika ditanya oleh ibu-Nya, membuat orangtuanya tidak mengerti apa yang dimaksudnya, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapaku?”.

Meski hal demikian mau menunjukkan siapa sesungguhnya Yesus itu, setelah pengakuan-Nya bahwa Ia harus berada di rumah “Bapa-Nya”. Yesus tetap tumbuh dan hidup dalam asuhan Yusuf dan Maria orang tua-Nya. Sebuah keluarga yang tetap percaya seutuhnya pada kehendak Allah di dalam kehidupan mereka.

Keluarga Kudus di Nazaret menjadi contoh keluarga yang menaruh kepercayaan seutuhnya pada kehendak Allah. Yusuf dan Maria tampil sebagai sosok orangtua yang berusaha mendidik anak mereka dalam ajaran iman dan prakteknya.

Orangtua yang mencemaskan anak mereka, ketika tidak berada bersama-sama dengan mereka, merupakan contoh keluarga yang saling mengasihi dan memperhatikan satu dengan yang lainnya. Sungguh keluarga teladan, yang semangat hidupnya, dapat menjadi semangat hidup keluarga-keluarga beriman kristiani yang sejati.

(Fr. Ryan Koresh)

 “Barangsiapa menuruti perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh. 3:24a).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, jadikanlah semangat hidup keluarga kudus di Nazaret, menjadi semangat hidup keluarga kami semua. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini