“Di Balik Keselamatan”: Renungan, Jumat 28 Desember 2018

0
2194

 Pesta Kanak-kanak Suci, Mrt (M)

1Yoh. 1:5 – 2:2; Mzm. 124:2-3,4-5,7b-8; Mat. 2:13-18.

Hadiah terindah yang dirindukan dari sepasang keluarga baru adalah seorang buah hati yang dapat memberikan warna baru dalam keluarga. Selain memberi warna, di satu pihak buah hati itu dapat membahagiakan orang tuanya dan di lain pihak juga dapat mengecewakan orang tuanya di masa mendatang. Semua itu tergantung didikan dari kedua orang tua yang mengantar sang buah hati mereka kepada sebuah pilihan, yakni membahagiakan atau mengecewakan.

Cerita Injil pada Pesta Kanak-kanak Suci, mengingatkan kita pada sejarah masa lalu Bangsa Israel saat berada di tanah pembuangan teristimewa peristiwa pembunuhan anak-anak Israel. Yang mana dari sekian bayi yang diselamatkan, munculah seorang penyelamat dari Perjanjian Lama, yakni Musa yang membawa Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.

Sehubungan dengan hal ini, Yesus dilukiskan sebagai hamba yang menderita dari Perjanjian Baru, yang hadir bukan hanya untuk menyelamatkan Bangsa Israel dari tanah perbudakan tetapi hadir sebagai Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa manusia. Namun, Yesus tidak berjalan sendiri dalam melaksanakan karya terbesar itu. Yesus dibantu oleh Bapa-Nya lewat perantaraan Yusuf dan Maria.

Yusuf dan Maria berperan penting dalam karya keselamatan Yesus. Mereka mengikuti petunjuk Allah untuk membawa Yesus mengungsi ke Mesir. Berdasarkan petunjuk Allah, Yusuf tidak menolaknya namun dengan gagah berani mengambil resiko serta membawa Maria dan Yesus melintasi padang gurun. Dalam perjalanan itu, Yusuf percaya bahwa Allah selalu menuntun, membimbing dan melindungi Keluarga Kudus yang sudah mereka hidupi. Dengan demikian, genaplah firman Tuhan bahwa dari Mesir Kupanggil Anakku. Itu berarti seorang Anak yang mereka selamatkan bukan Anak biasa tetapi Anak yang akan merubah dunia dari dunia yang gelap menjadi dunia yang terang melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering diperhadapkan dengan berbagai pilihan yang membuat kita salah mengambil keputusan bahkan lari dari kenyataan. Namun, belajar dari Keluarga Kudus maka kita tidak akan salah dalam melangkah dan mengambil keputusan, yakni mengikuti petunjuk Allah sendiri. Petunjuk Allah dapat kita temukan di dalam Sabda-Nya dan tidak jauh dari kita. Hanya dibutuhkan keterbukaan hati untuk melihat dan mendengarkan Sabda-Nya. Dengan begitu kita akan memperoleh keselamatan yang datang dari Allah sendiri.

(Fr. Mesak Wermasubun )

“Dari Mesir Kupanggil AnakKu” (Mat. 2:15b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu mengikuti petunjukMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini