“Arti Kebahagiaan” : Renungan, Kamis 06 Desember 2018

0
2027

Yes. 26:1-6; Mzm. 118:1,8-9,19-21,25-27a; Mat. 7:21,24-27.

Saudara terkasih, setiap orang dapat mendefinisikan kebahagian hidupnya dengan cara berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahagia itu kalau kumpul bersama keluarga. Ada juga yang mengatakan bahagia itu, kalau kumpul bersama teman-teman. Ada pula yang mengatakan bahagia itu kalau punya uang banyak dan rumah mewah. Pengertian-pengertian ini muncul ketika orang sedang mengalami kesulitan dan ingin mencapainya.

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini, menjelaskan ajaran Yesus tentang dua macam dasar. Yesus menjelaskan tentang dua macam dasar agar manusia dapat hidup bahagia dan damai. Dua macam dasar itu diumpamakan Yesus seperti orang bijak dan orang bodoh dalam membangun rumah. Orang bijak membangun rumah pada dasar yang kuat, yaitu di atas batu. Sedangkan orang bodoh membangunnya di atas pasir, sehingga mudah roboh dan hancur saat terkena musibah. Jelas bahwa suatu kebahagiaan pun perlu dibangun pada dasar yang kuat. Misalnya suatu keluarga perlu mengerti dengan baik bahwa dasar kebahagiaannya ada pada anggota keluarganya. Menjalani hidup yang harmonis dari pribadi per pribadi dalam keluarga. Ayah dan ibu, adik dan kakak, serta anak dan orang tua. Saling menjaga dan memperhatikan ikatan cinta kasih dalam keluarga. Ini perlu dibangun terlebih dahulu dalam keluarga. Kalau dasar kehidupan keluarga baik, maka kebahagiaan akan muncul dalam bentuk-bentuk lain pun.

Saudaraku terkasih, ajaran Yesus jelas dalam injil Matius, mengajak kita untuk hidup sebagai orang bijak. Bijak dalam melihat dan membangun dasar kebahagiaan hidup kita. Dasar kebahagiaan hidup kita perlu dibangun pada dasar yang kuat, agar tidak cepat roboh saat dilanda musibah atau cobaan. Tak lupa saat kita menjadi orang yang bahagia, kita akan sadar akan kebahagiaan kekal. Kebahagiaan yang tak lepas dari kehendak Allah di surga. Sebab pada akhirnya kita akan kembali dan memohon untuk hidup bahagia di surga. Hal itu akan kita ungkapkan dalam doa dan puji-pujian seperti umat Israel dalam bacaan pertama. Dimana mereka telah mendapat pengampunan dan keselamatan dari Allah. Pun agar kita tidak seperti orang bodoh yang hanya berdoa pada Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, tetapi tidak mampu membangun kebahagiaan hidupnya pada dasar yang kokoh.

(Fr. Phedy Huklubuk)

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana (Mat. 7:24a)”

Marilah Berdoa :

Ya Tuhan, anugerahkanlah kepadaku rahmat kebijaksanaan dalam menjalani hidup ini. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini