Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran (P).
Yeh. 47:1-2,8-9,12; Mzm. 46:2-3,5 6,8-9; 1Kor. 3:9b-11,16-17; Yoh. 2:13-22.
Situasi hidup senantiasa berkembang menuju sesuatu yang baru seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan mendorong perkembangan peradaban manusia ke arah yang sekarang kita sebut era postmodern yang ditandai dengan cara hidup materialistis dan semakin merosotnya penghayatan raligius atas fenomena-fenomena dalam kehidupan kita. Perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan menarik kita dari pengalaman-pengalaman religius, membuat kita kurang mengalami pengalaman iman akan Allah.
Hal senanda ditampilkan dalam bacaan Injil hari ini dalam perikop “Yesus Menyucikan Bait Allah.” Bait Allah merupakan pusat kehidupan religius orang-orang Yahudi. Di sana mereka wajib mempersembahkan korban sebagai persembahan, penghapusan dosa, menjalin hubungan mesra dengan Allah dan sebagainya. Atas dasar itu Bait Allah yang sebelumnya merupakan pusat kehidupan religius dimanfaatkan oleh para pedagang dan penukar uang sebagai tempat yang srategis untuk mencari keuntungan. Hal rohani digeser oleh yang profan.
Atas dasar itulah Yesus mengambil sikap tegas atas mereka yang menyalahgunakan fungsi Bait Allah. Ia mengusir para pedagang dan mengobrak-abrik dagangan mereka sambil berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Yesus dengan tegas mengatakan relasi-Nya dengan Allah Bapa dan Ia sebagai Putera. Dengan pernyataan itu, Ia juga menegaskan otoritas-Nya dalam karya penyelamatan manusia. Dan karena itu Ia mengatakan kepada mereka yang menentang Dia: “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Tetapi yang dimaksud-Nya ialah karya penebusan-Nya dengan mengorbankan diri-Nya sendiri. Dengan pengorbanan itu, pusat kehidupan religius tidak lagi berpusat pada Bait Allah, tetapi dalam Roh dan kebenaran. Allah ditemukan dalan Roh dan Kebenaran.
Saudara terkasih, Yesus menyucikan Bait Allah sebagai pusat kehidupan religius dari pengaruh profan. Demikian jugalah Ia telah menyucikan kita dengan wafat-Nya. Dengan demikian kita mempunyai relasi mesra dengan-Nya. Akan tetapi relasi itu ditantang oleh perkembangan zaman. Tawaran-tawaran zaman sekarang yang begitu memikat adalah daya tarik yang begitu kuat menjauhkan kita dari kasih Allah. Maka dari itu penting bagi kita untuk mengenal pilihan dalam hidup yang berkenan dengan kehendak Allah, yaitu pilihan yang menempatkan kita berada dalam Roh dan Kebenaran Allah.
(Fr. Bala Sumarre).
“Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” (Yoh. 2:17b).
Marilah Berdoa:
Utuslah Roh-Mu ya Tuhan, dan jadi baru seluruh muka bumi! Amin.











