Hari Biasa (H)
Flp. 1:18b-26; Mzm. 42:2,3,5bcd; Luk. 14:1,7-11.
Kata “rendah hati” tentu bukanlah sebuah kata yang asing di telinga kita. Ada begitu banyak tokoh besar yang mempunyai definisi tentang apa itu rendah hati. Contohnya, Konfusius (Filsuf Tiongkok) mengatakan, “Manusia unggul selalu rendah hati saat berbicara, tetapi selalu luar biasa dalam tindakan.”
Kemudian Mario Teguh (Motivator Indonesia) mengatakan, “Perhatikanlah, ternyata selalu orang yang rendah hati di antara kita-lah yang hidupnya damai, sejahtera, dan terhormat.” Adapula dari seorang biarawati, yakni Sta. Teresa dari Kalkuta, menjadi terkenal dengan “Beberapa cara mencapai kerendahan hati”.
Di zaman sekarang, menemukan orang-orang yang rendah hati tidaklah mudah. Banyak orang zaman sekarang tidak lagi menunjukkan diri sebagai pribadi yang rendah hati. Yang ada hanyalah orang yang tinggi hati.
Dalam bacaan pertama, sosok rasul Paulus menunjukkan kepada kita kedalaman batinnya akan Kristus. Kerinduannya akan Allah tergambar jelas dalam kata-katanya “bagiku hidup ialah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Kerinduan akan Kristus menghantar Paulus menjadi pribadi yang rendah hati. Dan benarlah kata pemazmur, “Jiwaku haus akan Allah, Allah yang hidup”.
Kristus menjadi teladan utama bagi siapa saja yang ingin menjadi rendah hati. Ia bersabda, “Terimalah beban-Ku dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.” Dalam bacaan Injil, Yesus mengajarkan dua hal bagaimana menjadi pribadi yang rendah hati.
Pertama, jangan pernah meninggikan diri, merasa diri lebih hebat, lebih pintar, lebih terhormat di hadapan manusia, apalagi di hadapan Allah. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita masih saja menemukan pribadi-pribadi yang merasa dirinya lebih hebat, lebih pintar dari orang lain. Padahal sesungguhnya masih ada pribadi-pribadi tertentu yang lebih hebat, lebih pintar dari kita. Ingatlah ungkapan “Di atas langit masih ada langit”.
Kedua, bersikaplah rendah hati di hadapan Allah. Ketika kita merendahkan diri kita di hadapan Allah, maka kita akan diajak untuk sadar bahwa kita hanyalah manusia lemah yang mempunyai banyak kekurangan. Dari kesadaran akan kekurangan itulah, kita akan belajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati di hadapan sesama kita.
(Fr. Devri Maturbongs)
“Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan” (Luk 14:11).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, tuntunlah kami senantiasa dengan Roh Kudus agar menjadi pribadi yang rendah hati. Amin.











