“Arti Sebuah Pilihan”: Renungan, Selasa 6 November 2018

0
3492

Hari biasa (H).

Flp. 2:5-11; Mzm. 22:26b-27, 28-30a, 31-32; Luk. 14:15-24.

Kunci keberhasilan seseorang tergantung pada pilihan dari pribadi yang bersangkutan. Menjadi pemenang dalam suatu pertandingan, menjadi juara dalam kelas, sembuh dari penyakit dan lain sebagainya berawal dari sebuah pilihan. Dengan kata lain, pilihan adalah komitmen. Dengan demikian membuat suatu pilihan berarti menerima yang satu dan mengorbankan yang lain untuk sesuatu yang lebih bermakna dan bermanfaat.

Bacaan-bacaan Kitab Suci yang kita dengarkan pada hari ini, terlebih khusus bacaan Injil menunjukkan dua macam sikap manusia untuk menentukan pilihan. Dalam perumpamaan-Nya, Yesus menceritakan tentang seorang yang mengadakan perjamuan besar dan mengundang banyak orang. Mereka yang diundang adalah orang-orang pilihan. Namun orang-orang tersebut memilih tidak menghadiri undangan itu karena berbagai macam alasan.

Ada orang yang sibuk dengan ladangnya, ada yang sibuk dengan hewan peliharaannya dan yang lain lagi sibuk dengan pasangannya karena dia baru saja kawin. Hal menarik yang terjadi adalah orang-orang yang datang pada perjamuan tersebut adalah mereka yang tidak diharapkan, tidak direncanakan dan bukan yang distimewakan. Mereka adalah orang miskin, orang-orang pinggiran, cacat dan lain sebagainya. Mereka bukan orang-orang pilihan dari si pembuat pesta. Namun merekalah yang kemudian mendengarkan dan menghadiri undangan tersebut.

Saudara terkasih, bacaan Injil yang kita dengarkan pada hari ini mengingatkan kita tentang pilihan. Kita senantiasa diperhadapkan dengan berbagai macam pilihan dalam realitas kehidupan kita. Untuk itu Tuhan Yesus dalam perumpamaan-Nya mengingatkan suatu pilihan amat penting. Pilihan tersebut tidak lain adalah mendengarkan dan menghadiri undangan Tuhan. Mendengarkan undangan Tuhan berarti hidup sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan.

Rasul Paulus dalam bacaan pertama memberi nasehat kepada jemaat di Filipi tentang cara hidup yang sesuai dengan kehedak Tuhan, “Saudara-saudara dalam hidup bersama hendaklah kalian bersikap seperti Kristus Yesus. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib” (Flp. 2:8).

Dengan kata lain cara hidup yang sesuai dengan Kristus adalah bersikap rendah hati dan taat kepada kehendak-Nya. Cara hidup dan pilihan tersebut membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Sehingga kelak kita dapat diperkenankan untuk masuk dan ambil bagian dalam perjamuan kudus di surga.

(Fr. Ferdy Poida)

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp: 2: 5).

Marilah berdoa:

Tuhan, tunjukkanlah jalan hidup yang sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini