“Kasih Yang Sempurna”: Renungan, Minggu 7 Oktober 2018

0
4637

Hari Minggu Biasa XXVII (H)

Kej. 2:18-24; Mzm. 128:1-2,3,4-5,6; Ibr. 2:9-11; Mrk. 10:2-16 (Mrk. 10:2-12).

Tuhan menciptakan manusia dengan dan karena cinta. Tuhan menghendaki manusia ciptaan-Nya itu pun saling mengasihi. Sebab Tuhan menginginkan agar benih cinta kasih yang ditanamkan-Nya dalam diri manusia ciptaan-Nya, bisa bertumbuh, berkembang dan berbuah.

Keinginan Tuhan agar kasih yang ditanamkan-Nya dalam diri setiap manusia berbuah, sudah ada sejak Ia menciptakan manusia. Hal itu kelihatan ketika Tuhan tidak membiarkan Adam hidup seorang diri saja. Allah menciptakan Hawa untuk menjadi teman dan pendamping hidup Adam. Dengan menciptakan Hawa untuk menjadi pendamping hidup dan teman bagi Adam, maka Allah ingin supaya mereka saling mengasihi dengan cara menjadi teman dan penolong satu sama lain.

Relasi yang terbangun antara Adam dan Hawa menjadi salah satu wujud konkrit bahwa mereka menghidupi kasih yang ditanamkan oleh Allah dalam diri mereka. Kasih yang ditunjukkan oleh Adam dan Hawa inilah yang diajarkan sekaligus dingatkan oleh Yesus kepada orang-orang yang datang bertanya pada-Nya.

Bahwa sejak awal mula dunia, Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan; dan karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Apa yang dikatakan Yesus ini menunjukkan bahwa tindakan mengasihi adalah kodrat manusia. Contoh konkritnya, adalah tindakan seorang suami yang mencintai istrinya dan sebaliknya, istri mencintai suaminya.

Meskipun tindakan mengasihi adalah kodrat manusia sejak diciptakan, namun sering terjadi manusia melawan kodrat itu. Pertanyaan orang-orang Farisi pada Yesus apakah pria dan wanita yang sudah menikah boleh bercerai, menjadi sebuah realitas dimana manusia melawan kodratnya sendiri. Ini terjadi karena orang tidak melihat bahwa tindakan mengasihi adalah sesungguhnya sebuah tindakan pemberian diri.

Surat kepada Orang Ibrani menunjukkan bagaimana sesungguhnya tindakan mengasihi, yang adalah sebuah tindakan pemberian. Kristus, berkat kasih karunia Allah, telah mengalami maut bagi semua orang. Karena kasih-Nya kepada manusia, Kristus memimpin manusia kepada keselamatan melalui penderitaan.

Sebagai orang kristiani, kita pun diajak untuk saling mengasihi. Kita mengasihi, bukan hanya karena kita suami istri, bersaudara, atau bersahabat, melainkan karena kita semua berasal dari Yang Satu, yaitu Allah. Sebab jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

(P. Jivon Motikas, Pr)

“Karena itu, apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk. 10:9).

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarilah kami selalu mencintai keluarga kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini