“Imbalan Yang Setara”: Renungan, Sabtu 6 Oktober 2018

0
2187

Hari Biasa (H)

Ayb.42:1-3,5-6,12-7; Mzm. 119:66,71,75,91,125,130; Luk. 10:17-24.

Berkat adalah pemberian dari Allah yang mendatangkan kebaikan. Melalui berkat, Allah menyatakan kasih-Nya secara nyata dalam kehidupan manusia, entah itu dalam bentuk kesuksesan, entah terlepas dari penderitaan hidup. Karena merupakan pemberian, maka berkat yang diperoleh pun seharusnya mendapatkan imbalan yang setara.

Kisah keberhasilan ketujuh puluh murid dalam menjalankan misi perutusan dan kelimpahan berkat yang diperoleh Ayub, menampilkan kebesaran dan kasih Allah dalam kehidupan umat manusia. Lebih daripada itu, kedua kisah tersebut juga hendak menunjukan cara yang tepat untuk membalas segala berkat yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Cara tersebut dapat dilihat secara jelas lewat perkataan Yesus, pada saat mendengar kabar keberhasilan dari para muridnya: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semua itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Semua telah diserakan kepada-Ku oleh Bapaku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya anak itu berkenan menyatakan hal itu”.

Hal ini juga senada dengan percakapan antara Ayub dan Allah. Di mana Allah menuntun Ayub pada kesadaran tentang kemutlakan Allah, terhadap pertanyaan tentang imbalan untuk jasa baik manusia. Hal ini menyadarkan Ayub, bahwa hanya kebaikan Allah yang dapat membuat manusia mengalami berkat. Kebaikan Allah pula yang kemudian memulihkan kembali kehidupan Ayub menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Syukur pada dasarnya mau mengungkapkan bahwa seseorang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Dengan selalu memanjatkan syukur kepada Allah, maka manusia telah melakukan apa yang dikehendaki-Nya, sekaligus menyatakan bahwa hanya Dialah yang senantiasa menghadirkan berkat dalam hidup. Dengan demikian, manusia akan selalu diberi-Nya berkat yang melimpah. Bersyukurlah, karena itu merupakan imbalan yang setara dengan segala berkat yang telah dikaruniakan Allah bagi kita.

(Fr. Michael Talubun)

“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Luk.10:21)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, terima kasih untuk berkat Mu yang melimpah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini