“Pengorbanan”: Renungan, Sabtu 15 September 2018

0
2150

Pw SP Maria Berdukacita (P)

Ibrani 5:7-9; Mzm. 31:2-3a.3b-4.5-16.20; Lukas 2:33-35

Pada ‘jaman now’ ini, ternyata masih ada orang yang rela berkorban demi menyelamatkan orang lain. Peristiwa pengorbanan semakin nyata ketika kita melihat dan mendengarkan di media sosial melalui pelbagai berita mengenai seorang pria bernama Bayu yang meninggal demi menyelamatkan orang lain pada sebuah peristiwa pengeboman di Gereja Katolik di Surabaya pada 13 Mei 2018 yang lalu. Pengorbanan Bayu ini sungguh sangat bermakna bagi orang yang yang diselamatkannya. Namun di sisi lain, tentu keluarga si korban tidak gampang menerima apa yang telah terjadi.

Peristiwa tersebut mengingatkan kita akan apa yang dikisahkan dalam bacaan pertama yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani, yakni mengenai Yesus Kristus yang rela mengorbankan diri-Nya demi menyelamatkan umat manusia. Yesus yang dikenal sebagai Anak Allah rela taat sampai mati di kayu salib. Apa yang dialami oleh Yesus mendatangkan suatu kesempurnaan abadi.

Sayangnya, manusia sering mengabaikan kesempurnaan kasih yang dinyatakan oleh Allah kepada manusia. Syukurlah ada Santa Perawan Maria.

Kesempurnaan kasih Allah itu menjadi nyata ketika Santa Maria menerima Roh Kudus dari Allah. Dengan kuasa Roh Kudus, ia mengandung dan melahirkan seorang Penyelamat Dunia yang kelak menderita sengsara untuk menyelamatkan umat manusia.

Pada hari ini Gereja Katolik merayakan Santa Perawan Maria Berdukacita. Santa Maria adalah seorang manusia biasa. Namun Santa Maria dipilih dan dikhususkan Allah sebagai perantara bagi karya penyelamatan-Nya.

Peristiwa dukacita yang dialami oleh Santa Maria sungguh sangat mendalam. Dukacita itu semakin nampak ketika peristiwa peramalan Simeon kepada Santa Maria seperti yang dilukiskan dalam bacaan Injil hari ini bahwa sebuah pedang akan menembus jiwanya sediri. Tentu perkataan dari Simeon sangat menyentuh, bahkan sangat melukai hati Santa Maria.

Meskipun peristiwa ini sangat melukai hati Santa Maria, namun ia berusaha dengan kerendahan hati menyimpan segala peristiwa di dalam hati.

Marilah kita belajar dari sosok Yesus Kristus dan Santa Maria serta peristiwa yang terjadi di Surabaya. Rela berkorban dan menderita demi keselamatan orang lain sungguh menakjubkan. Kita percaya bahwa pengorbanan akan mendatangkan  keselamatan kita. Sejarah telah membuktikan hal ini.

(Fr. Tinus Nifanngelyau)

« Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang » (Luk. 2:34-35).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah saya untuk siap berkorban demi orang lain. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini