“Kesombongan vs Kerendahan Hati”: Renungan, Jumat 28 September 2018

0
6079

Hari Biasa (H).

Pkh. 3:1-11; Mzm. 144:1a,2abc,3-4; Luk. 9:18-22.

Pada suatu hari,ada seorang tua berbadan bungkuk dan seorang pemuda tegap bertemu. Si pemuda mengolok orang tua itu, katanya: “Mengapa anda tidak berjalan tegak seperti aku?” Orang tua itu lalu menatapnya dengan belas kasihan dan berkata: “Hai anak muda, pernahkah engkau melihat ladang padi dan memperhatikan bulir-bulir mana yang merunduk dan mana yang tegak lurus? Jika mengamati ketika musim panen hampir tiba, engkau akan melihat bahwa bulir-bulir yang kosong berdiri tegak dan tinggi. Tetapi bulir-bulir yang membuat panen berhasil adalah bulir-bulir yang berisi dan merunduk.”

Si pemuda itu mendengar semua yang dikatakan orang tua itu dan ia pergi sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa malu dan bermenung berkali-kali atas apa yang dikatakan orang tua itu kepadanya.

Cerita singkat di atas menampilkan dua figur dengan dua tipe kepribadian yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Itulah kesombongan si pemuda dan kerendahan hati sang orang tua.

Dua tipe kepribadian ini juga nampak tersirat dalam bacaan Injil yang menunjukkan kepada kita sosok seorang Yesus yang rendah hati. Para murid mencoba menjawab pertanyaan Yesus mengenai identitas diri-Nya sehingga tiba pada kesimpulan bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah. Kendati demikian, Yesus tidak membesar-besarkan hal itu dan tidak menyombongkan diri. Sebaliknya, Ia malah mengatakan kepada para murid-Nya supaya merahasiakan status keallahan-Nya itu.

Bahkan lebih jauh lagi, Yesus menunjukkan bahwa akan ada saat di mana Dia sendiri sebagai Anak Manusia harus menderita sengsara dan wafat, lalu dibangkitkan pada hari ketiga. Apa yang akan dialami Yesus sejalan dengan kata-kata Pengkhotbah dalam bacaan pertama: “Segala sesuatu ada waktunya”.

Yesus sadar bahwa sebagai Allah yang berkuasa, Dia dapat melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Ia bisa saja memilih jalan yang lebih enak selain jalan salib. Namun nyatanya Dia lebih memilih jalan penderitaan. Allah yang mahatinggi itu rela merendahkan diri-Nya, menjadi sama seperti manusia dan bahkan harus mengalami penderitaan yang keji.

Pada zaman sekarang, manusia cenderung lebih memilih jalan yang instan untuk mencapai tujuan hidupnya: kebahagiaan, ketenaran, kesuksesan, dan lain sebagainya. Ketika semua itu sudah didapatkan, manusia terkadang menjadi sombong dengan apa yang dimilikinya. Ia merasa diri lebih tinggi dari orang lain. Ia tidak sadar bahwa masih ada “sesuatu lain” yang jauh lebih tinggi dan lebih berkuasa di atasnya.

Ingat! bahwa kita hidup dalam dimensi waktu. Ada saat di mana kita bahagia, ada saat pula di mana kita akan sedih dan menderita, bahkan ada saat di mana kita akan mati dan meninggalkan segalanya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengajak untuk menjalani hidup dengan penuh syukur dan kerendahan hati. Hidup akan lebih bermakna bila kita dengan rendah hati mau menerima segala peristiwa dan pengalaman sebagai apa adanya. Tuhan tahu apa yang kita gumuli dalam hidup ini, Ia jauh lebih mengenal siapa kita. Dia takkan mengecewakan kita.

(Fr. Tino Kebubun)

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pkh. 3:11a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhanku, mampukanlah aku untuk selalu bersikap rendah hati dalam hidup ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini