“Keberanian”: Renungan, Kamis 20 September 2018

0
3565

Pw St. Andreas Kim Taegon, Im dan Paulus Chong Hasan, dkkMrt-Korea(M).

1Kor. 15:1-11; Mzm. 118:1-2, 16ab-17,28; Luk. 7:36-50.

Jiwa manusia bagaikan rumput yang tumbuh di taman. Walaupun rumput itu sudah dicabut namun dengan satu akar saja ia dapat bertumbuh lagi. Tunas rumput yang tumbuh itu mungkin sangat lemah, namun tunas itu dapat tumbuh dan berkembang.

Injil hari ini berkisah tentang seorang perempuan berdosa yang datang kepada Yesus dan mengurapi kaki Yesus. Apa yang dilakukan oleh perempuan berdosa ini merupakan tindakan yang berani dalam usaha untuk melawan rasa takut, untuk datang mengakui semua dosa-dosa yang selalu membelenggunya. Tindakan yang dilakukan, merupakan tindakan keberanian untuk dapat bebas dari dosa-dosa.

Pada hari ini juga, Gereja memperingati St. Andreas Kim Taegon, seorang imam, dan Paulus Chong Hasan, dkk yang menjadi martir di Korea. St. Andreas merupakan seorang imam pertama Korea yang meninggal pada 16 September 1846, dalam usia 25 tahun.

Pesan terakhir sebelum ia dihukum pancung adalah, “Bila aku pernah berkomunikasi dengan orang asing, maka hal itu terjadi untuk agama dan Tuhanku. Adalah untuk-Nya aku mati. Jadilah orang Kristiani bila engkau berharap untuk bahagia setelah meninggal dunia, karena Tuhan memiliki hukum yang abadi bagi mereka yang menolak untuk mengenal-Nya”.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terkadang menolak untuk menjadi rendah hati dan mengakui kesalahan yang kita lakukan. Ini terjadi, karena zaman sekarang paham tentang dosa sudah memudar. Kita sering berpikir bahwa itu bukanlah dosa, melainkan kesalahpahaman, kekeliruan, dan kurang pengertian.

Tetapi Injil hari ini mengajarkan bahwa apa yang dilakukan oleh perempuan berdosa untuk datang kepada Yesus sungguh pantas ditiru. Ia mengalahkan ketakutan dalam dirinya dan dengan berani datang kepada Yesus serta mengakui segala kesalahan yang dia lakukan, sehingga dia dapat memperoleh belas kasih-Nya.

Begitu juga yang dilakukan oleh para martir yang hari ini kita peringati. Mereka hendak mengajarkan bahwa kita dapat menjadi orang Kristiani yang benar bila kita menjadi orang yang berani. Berani mengalahkan egoisme dan ketakutan untuk memberi kesaksian tentang iman.

Sama seperti rumput, biarpun telah dicabut tetapi dapat tumbuh lagi karena ada akar yang tetap tertanam di tanah, demikian pula kita orang Kristen. Biarpun mengalami rupa-rupa kesulitan hidup, kita dapat terus bertumbuh karena iman kita sungguh berakar pada Yesus yang menerima dan mencintai, mengampuni dan membarui hidup kita.

(Fr. Emanuel Paji Sopa)

“Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat” (Luk. 7:50b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk setia mendengar sabda-Mu dan melaksanakannya. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini