“Hidup Baru dalam Roh”: Renungan, Minggu 05 Agustus 2018

0
3452

Hari Minggu Biasa XVIII (H)

Kel. 16:2-4,12-15; Mzm. 78:3,4bc,23-24,25,54; Ef. 4:17.20-24; Yoh. 6:24-35.

Sebagai orang Kristen, kita sering mendengarkan ungkapan ‘’hidup baru”. Sebuah istilah yang sering kali dipakai untuk menyatakan sebuah cara atau kesempatan baru yang diberikan Tuhan untuk melangsungkan hidup kita. Selain itu, dinyatakan di dalamnya bahwa ini adalah anugerah Tuhan yang istimewa bagi kita orang Kristen.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini menghadirkan permenungan dalam semangat “hidup baru” itu. Pertama-tama, kita dapat melihat bahwa hidup sedemikian ternyata dimulai dari kenyataan adanya kelemahan dan ketidakmampuan manusia untuk keberlangsungan hidupnya. Hal ini dapat kita renungkan dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Bangsa ini bersungut-sungut karena tidak sanggup untuk berjalan melintasi padang gurun, bahkan ada yang merindukan kembali hidup di Mesir walaupun sebagai budak.

Dalam kelemahan sedemikian, Allah menggenapi kebutuhan hidup mereka lewat apa yang disebut sebagai makanan dari surga. Dengan makanan sedemikian itu, bangsa Israel dapat bertahan hidup. Terlebih bahwa bangsa Isreal dapat hidup seturut hukum-Nya. Itulah hidup baru Israel yang dicobai Tuhan, agar supaya mereka bisa hidup semakin lama semakin sejalan dengan hukum Tuhan.

“Hidup baru” yang lain dinyatakan juga oleh rasul Paulus dengan ungkapan “Manusia baru”. Itulah ungkapan yang merupakan refleksi rasul Paulus atas hidupnya sendiri, yang berubah dari semula yang adalah penganiaya Kristus menjadi rasul Kristus. Ia menegaskan untuk tidak menjadi sia-sia dalam hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah. Oleh rasul Paulus kita diajak untuk mengenakan manusia baru kita yang telah diciptakan menurut kehendak Allah.

Ajakan ini adalah sedemikian penting, karena kita sesungguhnya adalah orang-orang yang mengenal Allah, dan kita tidak dapat menyangkal-Nya. Maka kita tidak hanya sekedar punya pengetahuan tentang Allah, namun kita sungguh mau hidup dalam pengetahuan itu. Itulah hidup sebagai manusia baru yang selalu bersandar pada kekuatan dari Allah sendiri. Kekuatan itu adalah sumber hidup yang datang dari Tuhan sendiri, sebagaimana ditegaskan oleh Yesus sendiri: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi”. Itulah yang menjadi dasar “hidup baru” dalam Tuhan.

Dengan menyadari arti dan makna “hidup baru” sedemikian, kita perlu untuk membangun sikap untuk kembali pada sumber hidup itu sendiri, itulah Ekaristi yang merupakan pusat hidup kita sebagai orang Kristen.

(Pst. Baju Nuryatanto, Pr)

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 6:27a).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, kuatkanlah kami dalam mengarungi hidup ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini