“Ditolak”: Renungan, Jumat 03 Agustus 2018

0
4610

Hari Biasa (H).

Yer. 26:1-9; Mzm. 69:5,8-10,14; Mat. 13:54-58.

Pengalaman ditolak oleh orang lain itu terasa sakit. Dalam dunia percintaan, seorang pria akan merasa sakit hati karena cintanya ditolak. Dalam keluarga, ketika perkataan kita tidak diterima oleh suami, istri, anak, tentu kita akan merasa sakit hati. Dan ada rupa-rupa pengalaman yang tentunya pernah kita alami ketika kita mau berbuat baik, tapi toh kita ditolak. Dalam Injil Yesus juga mengalami penolakan.

Penolakan yang dialami Yesus bukan karena Yesus tidak berbuat baik, tetapi karena Yesus dikenal di tempat asal-Nya dan dalam keluarga-Nya. Orang-orang yang mengenal Yesus penuh keheranan karena mana mungkin Ia seorang anak tukang kayu, anak Maria, dapat berkata-kata dengan penuh hikmat dan berkuasa membuat banyak mukjizat? Atas hal itulah mereka menolak Yesus. Mereka tidak percaya dengan hikmat dan kuasa yang dimiliki-Nya.

Tetapi orang-orang lain yang tidak mengetahui latar belakang keluarga Yesus percaya akan hikmat dan kuasa Yesus serta mendengarkan perkataan-Nya.

Untuk itulah Yesus mengatakan: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya”. Maksud dan perkataan Yesus ini ditujukan kepada orang-orang yang sudah mengenal-Nya secara dekat. Karena kedekatan mereka itulah yang membuat mereka tidak percaya akan hikmat dan kuasa yang dimiliki Yesus. Ketidakpercayaan mereka itulah yang membuat Yesus tidak banyak mengadakan mujizat di situ.

Kita pasti pernah merasakan kekecewaan, sakit hati dari orang-orang yang kita kenal. Bahkan orang-orang yang kita sayangi atau dekat dengan kita. Kita tidak akan pernah merasa sakit hati ketika orang yang melakukan itu tidak kita kenal. Kita merasa demikian karena kita mengenal mereka, kita menyayangi mereka. Hari ini Yesus menguatkan kita. Yesus meneguhkan kita bahwa ternyata penolakan itu sudah pernah dialami oleh-Nya. Suatu penolakan yang kita alami bukanlah hal yang baru.

Kita tidak perlu merasa sakit hati karena penolakan itu, meskipun terjadi di tengah-tengah keluarga kita. Tetapi, pada intinya kita selalu berusaha hidup baik, bertindak, dan bertutur kata yang baik di tengah-tengah keluarga, Gereja dan masyarakat kita. Ketika kita ditolak justeru karena perbuatan baik kita, ingatlah bahwa yang terpenting dalam hidup kita yakni perbuatan yang baik itu. Kita tidak perlu untuk dihormati, tetapi yang diperlukan yaitu kita tetap berbuat baik kepada sesama kita.

(Fr. Marsiano Kaunang)

“Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya dan di rumahnya” (Mat. 13:57).

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukan aku untuk tidak mengejar kehormatan, melainkan bertindak dan berbuat baik kepada banyak orang. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini