“Allah: Jalan Keselamatan”: Renungan, Sabtu 04 Agustus 2018

0
2727

Pw S. Yohanes Maria Vianney, Im (P).

Yer. 26:11-16,24; Mzm. 69:1516,30-31,33-34; Mat. 14:1-12.

Orang merasa gembira ketika mendengar tempat tugas dari para imam baru sesaat setelah tahbisan. Sukacita itu bukan semata-mata hanya dirasakan oleh umat, tapi juga oleh keluarga para imam, dan terlebih oleh imam baru sendiri. Dalam semangat itu, ia pun mesti menjalaninya dengan penuh kerendahan hati, pengorbanan, kesetiaan, dan hidup berdasarkan nasehat injili. Dengan demikian, ia pun menuntun orang supaya selamat, melalui kasih Allah sebagai jalan keselamatan.

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita semua untuk bermenung tentang kasih Allah itu. Nabi Yeremia dalam pewartaannya diseret ke pengadilan karena nubuatnya disangka sebagai malapetaka yang akan menjatuhi kota Yehuda. Padahal ia mengajak semua orang untuk bertobat, memperbaiki diri dan hidup, serta mematuhi hukum Tuhan. Pada akhirnya, ada juga orang lain yang dengan tahu dan mau datang menolong Yeremia.

Kasih Allah yang diterima oleh Yeremia melalui kesadaran orang lain  disekitarnya membuat ia menjadi lebih percaya pada Allah dan lebih mengutamakan Allah sebagai jalan keselamatan. Pewartaannya tak hanya sampai di situ. Ia tetap bernubuat tentang Allah yang hidup itu berdasarkan pengalaman hidup yang ia yakini adalah kuasa kasih Allah.

Injil hari ini mengisahkan Yohanes Pembaptis yang mengalami pengalaman itu. Ia yang dengan terang-terangan mengkritik tindakan Herodes, akhirnya disingkirkan dengan cara dihukum mati atas permintaan Herodias. Meskipun pada awalnya Herodes merasa takut akan orang banyak yang memandang Yohanes Pembaptis sebagai nabi, namun ketakutan Herodes dikalahkan oleh keangkuhan dan sikap tak ingin dipermalukan.

Hari ini secara istimewa, kita diajak untuk bermenung bersama St.Yohanes Maria Vianney. Di tengah-tengah kekurangannya, ternyata ia belajar untuk taat dan setia pada kuasa kasih Allah itu. Setelah ditahbiskan, ia tidak disambut dengan sorak-sorai dari para umat karena ditempatkan di tempat yang enak-enak, malahan ia ditugaskan di desa terpencil. Ia akhirnya menjadi orang yang dikenal dan dikenang oleh banyak orang. Orang besar maupun kecil, kaya dan miskin, datang kepadanya untuk meminta nasehat dan pengampunan dosa.

Hidup yang didasarkan pada keutamaan Injil ini membuat dirinya selalu bersyukur bukan berpesta pora. Inilah alasan mengapa kita mesti meneladani hidupnya yang tetap setia pada kuasa kasih Allah meskipun sebelumnya ia pernah mengalami keterasingan oleh berbagai pihak.

(Lentera Jiwa)

“Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara Tuhan, Allahmu”

(Yer. 26:13a).

Marilah berdoa:

Ya Allah, berilah aku kasih-Mu dan tuntunlah aku agar boleh melalui jalan keselamatan yang Kau janjikan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini