“Yang Lapar diberi-Nya Roti”: Renungan, Minggu 29 Juli 2018

0
2251

Hari Minggu Biasa XVII (H)

2Raj. 4:42-44; Mzm. 145:10-11,15-16,17-18; Ef. 4:1-6; Yoh. 6:1-15

Kisah Elisa tentang penggandaan roti amat menakjubkan. Kisah itu menempatkan Allah sebagai sumber harapan dan hidup. Sang pelayan dari Elisa bertanya: “Bagaimana aku dapat menghidangkannya di depan seratus orang?” Sang abdi terbiasa menghidangkan makanan dan tahu, bahwa makanan yang diterima dari tangan Elisa tidak cukup untuk disajikan bagi seratus orang.

Mengherankan bahwa kendati roti yang diterima sedikit jumlahnya, namun setelah disantap oleh seratus orang itu, masih tertinggal sisanya. Allah memelihara umat-Nya dengan kasihNya yang berlimpah-ruah. Senada dengan itu, simaklah ucapan pemazmur yang mengatakan: “Engkau membuka tangan, ya Tuhan dan berkenan mengenyangkan kami”.

Penginjil Yohanes menyuguhkan kisah yang hampir sama, bahkan sungguh spektakuler. Di sini hadir Dia yang lebih besar daripada Elisa. Yesus Kristus, Sang Mesias, mengajar tentang rahasia Kerajaan Allah dan membuktikan bahwa Kerajaan Allah sungguh mengungguli semua kerajaan dunia. Tema utama Kerajaan Allah adalah mengasihi, teristimewa mereka yang lapar, haus, sakit dan menderita.

Dengan pengajaran-Nya, Yesus memuaskan dahaga dan rasa lapar manusia akan kebenaran dan kebaikan. Ia mengajar agar manusia menentukan pilihan hidup yang benar dan dibebaskan dari belenggu dosa yang menindasnya.

Ia mengajar dengan penuh kuasa tidak seperti para rabi pada zaman-Nya. Kuasa itu dibuktikan-Nya dengan penggandaan roti, agar mereka yang datang kepada-Nya tidak kelaparan. Kuasa disini berbeda dengan kekuasaan kerajaan duniawi. Kuasa ini semata-mata kuasa cinta kasih yang tak bersyarat supaya manusia memiliki hidup, bahkan memilikinya dalam kelimpahan.

Roti di padang gurun diubah oleh Yesus melalui penyerahan diri-Nya yang total di atas kayu salib. Roti itu berubah menjadi tubuh-Nya yang dikonsekrir pada salib. Allah Bapa menerima korban salib dan menjadikannya roti hidup kekal. “Barangsiapa makan roti ini ia akan memperoleh hidup kekal.”

Roti yang disantap di padang gurun, kini menjadi santapan Gereja yang sedang berziarah di padang gurun dunia dan yang sedang merindukan kehidupan kekal.

Rasul Paulus, dalam bacaan kedua, menyuguhkan refleksinya bahwa roti hidup yang dimakan itu, memiliki daya yang mempersatukan dan menguduskan jemaat Tuhan, Gereja. Kiranya dengan santapan rohani itu, Gereja tetap hidup dalam kesatuan “Tubuh Kristus yang Baru”.

(Pst. Yonas Atjas, Pr)

“Suruhlah orang-orang itu duduk” (Yoh. 6:10)

Marilah berdoa:

Yesus, anugerahkanlah kami rahmat-Mu agar kami selalu menghargai Roti Ekaristi yang menjadi sumber hidup baru bagi kami. Semoga cinta kasih Kristus menjiwai hidup kami dalam membangun komunitas gerejawi yang sejati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini