Hari Biasa (H).
Hos. 8:4-7, 11-13; Mzm. 115:3-4, 5-6, 7ab-8,9-10; Mat. 9:32-38.
Salah satu kebutuhan manusia dalam dunia dewasa ini adalah teknologi. Khususnya alat komunikasi, seperti handphone, tab, computer, dll. Bahkan tanpa sarana komunikasi kita bagaikan sebuah mesin tanpa pelumas. Hidup terasa tidak harmonis dan tidak ada daya semangat. Terkadang kita rela meninggalkan “dunia kita” demi berkomunikasi dengan “dunia lain”.
Dunia kita adalah saat ini dan di sini. Sementara dunia lain adalah mereka yang ada di sana, yang dapat dipandang lewat segenggam layar kaca di tangan. Dalam hidup sekarang ini rupanya kita selalu mengutamakan sepenggal alat itu. Kita terkadang mendewakannya dan bahkan menjadikannya berhala dalam hidup kita. Rupanya alat komunikasi tersebut tidak lagi digunakan sesuai fungsi dan tujuannya.
Bangsa Israel ketika dibebaskan oleh Allah dari tangan bangsa Mesir ternyata pada akhirnya juga mengkhianati Allah yang telah menyelamatkan mereka. Mereka membuat berhala-berhala dari emas dan perak dan menyembahnya. Sementara Allah tidak diakui lagi sebagai Allah mereka.
Hosea menggambarkan tindakan Bangsa Israel yang pernah dilakukan di hadapan Allah: “Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri”. Padahal pembebasan bangsa Israel dari perbudakan adalah tindakan Allah. Mereka menduakan Allah dengan mendewakan harta benda mereka. Perak dan emas dibuat menjadi berhala yang dapat disembah.
Kenyataan yang sama juga digambarkan dalam Injil hari ini. Ketika Yesus menyembuhkan seorang bisu yang kerasukan setan, orang-orang Farisi menganggap bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa penghulu setan.
Perbuatan Allah yang agung dan mulia itu ternyata dianggap bukanlah perbuatan Allah. Jika demikian bagaimanakah tindakan dan perbuatan kita agar sesuai dengan kehendak Allah? Bagaimana kita dapat memandang perbuatan Allah yang agung dan mulia dalam hidup kita?
Berhadapan dengan dunia dewasa ini, banyak hal baik yang dapat diciptakan, dikembangkan untuk membantu kehidupan kita. Namun hanya sedikit orang yang mampu memandangnya dengan benar. Hanya sedikit orang yang juga tahu menggunakannya sesuai dengan fungsinya. Dan hanya sedikit orang yang tahu tujuan dari hal-hal baik tersebut.
Mari, kita memohon Roh Kebijaksanaan dari Tuhan turun atas kita semua, sehingga kita dimampukan untuk menjadi bijaksana dalam hidup. Semoga dengan alat komunikasi yang kita miliki, kita tahu dan mau menggunakannya sesuai dengan fungsi dan tujuannya.
Kita dapat memandangnya bukan hanya sebatas sarana pemenuhan kehidupan kita, melainkan juga sebagai sarana pemenuhan keselamatan jiwa kita. Akhirnya, kita sendirilah alat Kristus dalam mewartakan keselamatan bagi orang lain.
(Fr. Vanjosh Ohoiledjaan)
“Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat. 9:38).
Ya Tuhan, jadikanlah kami pekerja-pekerja yang bijaksana, sehingga kami dapat menggunakan sarana komunikasi yang ada dengan baik. Amin.











