“Menerima Dia”: Renungan, Minggu 8 Juli 2018

0
2326

Hari Minggu Biasa XIV (H)

Yeh. 2:2-5; Mzm. 123:12a,2bcd,3-4; 2Kor. 12:7-10; Mrk. 6:1-6. 

Sesudah melayani di banyak tempat dan melakukan banyak mukjizat, Yesus pulang kampung untuk menemui keluarga dan kerabat-Nya. Pada hari Sabat Ia mengajar di rumah ibadat. Orang-orang yang hadir mendengarkan Dia begitu takjub akan kata-kata-Nya yang bijaksana.

Masih dalam suasana “takjub” mereka bertanya satu sama lain dengan nada cibiran, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimana Ia dapat membuat mukjizat? Bukankah Dia ini anak tukang kayu dan saudara-saudari-Nya ada bersama dengan kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.”

Penolakan orang-orang sekampung-Nya tentunya mengecewakan. Padahal Yesus punya keinginan untuk pulang kampung dan mengalami sukacita bersama dengan mereka.

Yesus ingin berbagi cerita dengan mereka sambil memperlihatkan kepada mereka apa yang telah Ia buat di tempat-tempat lain. Hal-hal seperti ini yang Ia ingin sharingkan; “Setiap orang yang mendengarkan pewartaan-Nya diliputi sukacita surgawi dan bersedia mau mengikuti-Nya dan menaati apa yang menjadi perintah-Nya”.

Selain itu, Yesus mengadakan mukjizat di hadapan mereka; Orang yang sakit lumpuh disembuhkan, angin ribut diredakan oleh-Nya, bahkan anak Yairus dibangkitkan Yesus dari kematian.

Karena mereka menolak Dia, Yesuspun berkata: “Seorang Nabi dihormati dimana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya”. Alhasil karena mereka menolak Dia, maka di tempat asal-Nya itu tidak terjadi mukjizat kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.

Pengalaman Paulus dalam bacaan kedua sungguh mengagumkan karena Paulus justru tidak ingin meninggikan dirinya untuk menyamai bahkan melebihi kesombongan lawan-lawannya. Paulus berbangga dalam kelemahannya karena ada Kristus di dalam dirinya. “Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat”.

Paulus sungguh mengalami “mukjizat” dalam dirinya karena Kristus yang hidup dalam dirinya. Sesudah peristiwa perjalanan menuju Damsyik, Paulus telah berkomitmen memberikan diri seutuhnya untuk mewartakan Yesus dimana-mana, sekalipun nyawanya menjadi taruhan.

Pada akhirnya Paulus dapat berkontribusi besar dalam menyebarkan karya keselamatan Tuhan dimana-mana. Hal ini dikarenakan Kristus yang ia wartakan menjadi kekuatan dan motivasi utamanya.  Keberhasilannya ini sungguh dialami sebagai “mukjizat” karena Kristus sungguh dilibatkan dalam karya kerasulannya.

Kita telah mengaku menjadi pengikut-pengikut Yesus yang setia. Pengenalan kita terhadap Yesus mungkin sudah begitu dalam dan intim. Karenanya, kita berusaha untuk terus mendengarkan Sabda-Nya dan melakukannya setiap hari.

Mendengarkan dan setia melakukannya menjadi tanda-tanda bahwa kita telah membangun sikap yang benar, tidak seperti orang-orang sekampung Yesus yang menolak-Nya. Berkomitmen untuk tetap setia menjadi pengikut-Nya membuka banyak mukjizat terjadi dalam hidup kita.

(Pst. Melky Malingkas, Pr)

“Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri” (Mrk. 6:4).

Tuhan, buatlah kami selalu terbuka menerima Dikau setiap saat. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini