“Kasih dan Peraturan”: Renungan, Jumat 20 Juli 2018

0
2746

Hari Biasa (H)

Yes. 38:1-6,21-22,7-8; MT Yes. 38:10,11,12abcd,16; Mat. 12:1-8. 

Disadari atau tidak, orang Kristen pada umumnya sering meneladani orang Farisi. Ketika di hadapan kita ada orang yang membutuhkan pertolongan, kita tidak dengan segera bereaksi untuk membantu. Kadangkala, kita masih mempertimbangkan apakah orang tersebut seagama, sehaluan politik, sekampung dengan kita atau tidak.

Dalam bacaan Injil hari ini ditampilkan dua insiden yang berhubungan dengan hari Sabat. Terdapat konflik terbuka antara Yesus dengan orang-orang Farisi. Peristiwa pertama, murid-murid Yesus dituduh melanggar Sabat karena bekerja. Padahal mereka hanya memetik gandum dan memakannya!

Menjawab tuduhan itu, Yesus menceritakan kisah Daud saat melarikan diri dari Saul. Waktu lapar, Daud ke Rumah Allah dan menerima roti kudus dari Imam Ahimelekh. Padahal, roti itu hanya boleh dimakan oleh imam. Bersalahkah Ahimelekh dan Daud serta para pengikutnya? Terbukti kemudian bahwa dengan memberi roti itu kepada Daud, Ahimelekh memenuhi maksud Allah.

Kisah kedua adalah para imam. Mereka bekerja dan melayani umat, justru pada hari Sabat. Salahkah mereka? Allah-lah yang menyuruh mereka! Kalau begitu, salahkah Allah? Tentu tidak. Ia punya maksud tersendiri. Pernyataan Yesus bahwa Dia adalah Tuhan atas Sabat menyatakan bahwa Dia punya otoritas atas Sabat.

Dengan kisah itu, Yesus ingin mengajarkan bahwa makna Sabat bukan sekadar berhenti dari semua aktivitas, melainkan lebih pada bagaimana kita melakukan kehendak Allah pada hari itu. Jika Sabat dirancang sebagai hari kudus, hari untuk beristirahat dan dipulihkan, serta hari perayaan kasih karunia Allah, bukankah memberi makan mereka yang lapar dan menyembuhkan orang yang sakit juga sesuai dengan makna Sabat? Dari kedua peristiwa ini, Yesus menunjukkan keutamaan-keutamaan yang mesti dimiliki oleh setiap orang.

Sebab itu, mari kita bijak melihat maksud Allah dalam tiap hukum-Nya. Ingatlah bahwa Ia merancang hukum untuk kesejahteraan umat dan bukan sebaliknya. Maka jangan hanya bersikap keras dan menghakimi orang yang melakukan kesalahan, melainkan bersikaplah seperti Yesus yang melayani dengan lemah lembut dan penuh belas kasihan.

Peristiwa itu menunjukkan keterbukaan terhadap apa yang ada di hati Yesus dan orang-orang Farisi. Orang Farisi begitu peduli dan kritis terhadap peraturan dan hukum-hukum, tetapi tidak peduli sama sekali kepada sesamanya yang membutuhkan pertolongan. Yesus secara tegas mengajarkan kita untuk bersikap peduli kepada manusia dan bersedia menghadapi kritikan dalam menolong sesama.

(Fr. Fenansius Ngoranmele)

“Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Mat. 12:8)

Marilah berdoa:

Ya, Tuhan, ajarlah kami hidup dalam karunia-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini