Hari Biasa (H)
Yes. 1:11-17; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat. 10:34–11:1
Ketika kita masih kecil dan masih berada dalam asuhan orang tua, satu hal penting yang senantiasa diajarkan kepada kita yakni berbuat baik. Orang tua secara terus-menerus mengajarkan kepada kita bagaimana caranya agar kita mampu mengetahui mana itu perbuatan baik. Dan itu dimulai dari hal-hal yang kecil, misalnya membandingkan yang ini dan itu, jangan begini dan begitu, dan seterusnya. Dengan satu harapan bahwa kelak nanti kita mampu berbuat baik terhadap siapa saja dimana pun kita berada.
Hari ini, dalam Injil Yesus juga mengajarkan hal demikian kepada para murid. Mengasilkan perbuatan baik diawali dengan meninggalkan segala-galanya yang mereka punya lalu mengikuti Yesus. Jika mereka tidak mampu meninggalkan kepunyaan mereka, maka mereka tidak layak dikatakan sebagai pengikut Kristus. Ajakan Yesus merupakan satu tantangan yang amat besar dan terasa sulit untuk kita cerna. Ini bukanlah suatu hal yang mudah bagi kita manusia biasa.
Dalam bacaan pertama juga demikian. Yesaya berseru kepada umat Israel agar berhenti berbuat jahat dan belajar untuk berbuat baik. Tuhan sama sekali tidak mengharapkan korban bakaran mereka, tetapi yang Ia harapkan ialah mereka mampu menghasilkan suatu perbuatan baik. Perbuatan yang mampu membawa kebahagiaan bagi banyak orang.
Ajakan-ajakan Yesus dalam bacaan-bacaan tadi, tentunya juga mengarah kepada kita yang adalah pengikut Kristus. Sebagai pengikut Kristus, dalam keseharian hidup kita, tantangan untuk berbuat baik itu pasti selalu kita jumpai, baik itu dalam kalangan keluarga maupun masyarakat luas. Akan tetapi yang terjadi bahwa, kita sering lalai terhadap tantangan tersebut. Kita lebih memilih untuk sibuk terhadap pribadi kita masing-masing, seolah-olah kita tidak mempunyai waktu untuk orang lain. Padahal, jika kita melihat situasi sekitar kita, ada banyak orang yang membutuhkan bantuan.
Lalu, bagaimana tanggapan kita? Apakah kita mulai sadar lalu membuka diri bagi sesama atau malah sebaliknya tetap mengurung diri di dalam kesibukan kita? Santo Josemaria Escriva pernah berkata: “Dalam hidup batinmu, pernahkah kau pikirkan keindahan dari melayani dengan sukarela?” Lalu ia menambahkan: “Et regni eius non erit finis”— “Kerajaan-Nya tak akan berakhir”. Tidakah engkau merasa gembira bekerja bagi suatu kerajaan yang seperti itu?”
(Fr. Relly Ndana)
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38)
Marilah berdoa:
Tuhan, ingatkan aku untuk selalu berbuat baik. Amin.











