Hari Biasa (H)
Yer. 3:14-17; MT. Yer. 31:10,11-12ab,13; Mat. 13:18-23
Zaman ini dikenal dengan zaman now. Zaman yang membuat orang mencoba menemukan popularitas diri melalui berbagai cara. Hal itu dapat kita lihat dan temukan di berbagai media sosial yang ada. Berkembangnya pengetahuan dan teknologi membuat kebanyakan orang disibukkan dengan dunia maya, misalnya saja facebook.
Keadaan ini membuat seseorang terkadang menjadi egois karena menggunakan kebebasan untuk meraih kepentingan pribadi. Inilah suatu kebebasan yang diberikan Tuhan yang kadang disalahartikan oleh manusia. Kebebasan yang baik diwujudkan dengan tindakan memberikan kebahagiaan kepada sesama tanpa mendahulukan kepentingan pribadi.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengajar tentang Kerajaan Surga dengan menggunakan perumpamaan tentang benih. Benih yang ditaburkan di pinggir jalan menggambarkan kedangkalan dan kurangnya pemahaman tentang firman yang disampaikan. Di tanah yang berbatu-batu adalah gambaran tentang ketidaksetiaan pada apa yang sudah dimulai, yaitu iman. Yang jatuh di semak duri yakni gambaran tentang keterikatan dengan hal-hal duniawi.
Sesungguhnya, pewartaan Yesus dalam perumpamaan mau menunjukkan bahwa Ia ingin umat-Nya setia menjalankan perintah-Nya. Dengan kebebasan dan tindakan-Nya, Yesus ingin manusia menikmati kebahagiaan kekal dalam Kerajaan Surga. Maka, pentinglah kesadaran kita untuk melihat kembali letak keberimanan kita. Allah telah memberikan segalanya dalam hidup kita. Hanya saja, dimana kita meletakkan pemberian itu?
Panggilan kita sebagai orang beriman tercermin dari perkataan dan perbuatan kita Kita semua adalah murid Yesus yang menjadi perpanjangan tangan Allah di dunia modern ini. Di samping itu juga, kita juga adalah pelaku di zaman now. Di dalamnya kita menemukan merosotnya iman dan nilai-nilai moral. Terdapat kesejajaran antara cinta kasih dan kebencian. Kesejajaran itu adalah tantangan.
Karena itu, perlu adanya sikap kritis dalam menjalankan keseharian hidup di zaman modern ini, supaya kita tetap berada dalam bingkai kebenaran iman kita. Dengan cara demikian, kita bisa menjadi tanah yang subur sehingga menghasilkan buah yang membahagiakan diri kita maupun orang lain.
(Fr. Mogi Saelong)
“Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala sesuai dengan hati-Ku; Mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian” (Yer. 3:15)
Marilah berdoa:
Tuhan, tambahkanlah iman kami untuk melaksanakan sabda-Mu. Amin.











