“Belajar dari Yesus”: Renungan, Sabtu 21 Juli 2018

0
2547

Hari Biasa (H)

Mi. 2:1-5; Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14; Mat. 12:14-21

Materialisme ternyata tidak hanya menjadi gaya hidup manusia zaman sekarang ini. Orang yang hidup pada zaman Mikha juga mengalami hal demikian. Orang-orang Yehuda cenderung memperkaya diri dengan cara yang jahat. Materialisme berakar dari ketamakan. Ketamakan itu membuat mereka iri atas segala sesuatu yang dimiliki orang lain.

Orang yang tamak, tidak merasa puas atas pemberian Tuhan dan tidak tahu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Ketamakan membuat orang melakukan dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang demikian.

Rasul Paulus mendorong kita untuk mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki. Ia mengingatkan bahwa hasrat untuk kaya bisa membinasakan manusia. Kabar baik bagi kita adalah kita dapat bertobat dari ketergantungan pada harta atau obsesi pada sesuatu yang belum kita miliki.

Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang dikenal bukan karena kehebatan-Nya tetapi karena misi-Nya. Orang-orang yang gila kuasa, kedudukan, kehormatan dan kekayaan duniawi pada umumnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.  Namun orang yang bijaksana akan selalu berjuang untuk kepentingan umum. Mereka akan bersikap seperti Yesus; tidak sombong dan munafik.

Yesus tetap setia pada misi-Nya dan justru tidak ingin orang terfokus pada kehebatan-Nya. Setelah Yesus mengetahui maksud orang-orang Farisi yang bersekongkol membunuh-Nya, maka Ia segera menyingkir. Namun justru semakin banyak orang yang mengikuti-Nya untuk disembuhkan. Karena terdorong oleh belas kasih dan kerendahan hati-Nya, Yesus menyembuhkan mereka semuanya.

Kehebatan-Nya itu ingin disiarkan orang banyak, terlebih mereka yang telah mengalami kuasa kesembuhan dari-Nya. Yesus melarang mereka memberitakan kuasa kesembuhan itu, karena tidak mau orang yang mendengar berita ini kemudian datang kepada-Nya dengan motivasi yang salah. Bila berita-berita ini tersiar, maka akan kaburlah misi kemesiasan-Nya.

Karena itu Yesus menegaskan kembali diri-Nya sebagai penggenap nubuat Nabi Yesaya. Pertama, Ia adalah utusan Allah yang dipilih, dikasihi dan yang berkenan kepada-Nya. Allah sendiri telah memberikan otoritas kepada Yesus, dan menjadikan Dia perantara bagi bangsa-bangsa.

Kedua, kehadiran-Nya tidak ditandai kegemparan, perbantahan, teriakan dan tanpa publikasi.

Ketiga, misi-Nya untuk menegakkan hukum dan membawa kemenangan bagi orang-orang yang tertindas dan tak berpengharapan. Dialah satu-satunya sumber pengharapan dan kehidupan umat beriman.

Maka, sebagai pengikut Kristus, berita inilah yang hendaknya kita wartakan kepada semua orang.

(Fr. Dedianus Pati)

“Lihatlah, itulah Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan” (Mat. 12:18)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah aku supaya dapat setia dan menyerupai Engkau. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini