“Apakah Pilihan Anda?”: Renungan, Sabtu 28 Juli 2018

0
2627

Hari Biasa (H)

Yer. 7:1-11; Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11; Mat. 13:24-30

Hidup adalah hadiah dari Tuhan. Hidup yang baik didasarkan pada cinta kasih yang ditopang dengan sikap hormat kepada Tuhan dan sesama. Dalam kehidupan ini, Tuhan telah memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup dan Dia berharap agar kita melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya.

Yesus ingin agar kita tidak terpisah dari cinta-Nya. Maka dari itu, kita perlu berusaha menentukan pilihan hidup kita. Yang terpenting yakni hidup dengan cinta dan penuh hormat sesuai dengan kehendak-Nya.

Bacaan pertama menampilkan “keprihatinan” Allah atas sikap dan tindakan yang ditunjukkan oleh umat-Nya. Umat Israel tidak lagi menunjukkan sikap yang hormat kepada Allah dengan cara menindas orang asing, yatim dan janda, dan menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Selain itu mereka juga mencuri, membunuh, berzinah, bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti Allah lain. Sikap inilah yang menjadi pilihan hidup mereka.

Situasi demikian membuat mereka jauh dari keselamatan Allah. Sesungguhnya, mereka inilah yang digambarkan oleh Yesus dalam bacaan Injil sebagai lalang di antara gandum. Mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bertumbuh bersama-sama dengan gandum, tetapi pada waktunya mereka akan dicabut dan dibakar sedangkan gandum dicabut dan ditaruh di dalam lumbung Tuhan itu.

Oleh karena itu, apakah pilihan anda? Menjadi lalang atau gandum? Itu semua adalah pilihan hidup kita. Jika kita memilih untuk menjadi lalang, maka bersikaplah seperti orang-orang Yehuda yang ditampilkan dalam bacaan pertama; menindas, membunuh, dan sebagainya. Jika kita mau memilih menjadi gandum maka ikutilah apa yang menjadi kehendak dari Tuhan pencipta kita.

Tuhan senantiasa memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih. Tetapi ingat! Apapun pilihan kita, tetap mempunyai konsekuensinya. Percayalah jika pilihan kita sesuai dengan kehendak-Nya, maka tentunya keselamatan dapat kita peroleh dari-Nya. Bila kita sendiri memperoleh keselamatan, maka kita dapat juga menjadi saluran keselamatan bagi orang lain.

(Fr. Yakobus Weridity)

Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini ”  (Yer. 7:3)

Marilah berdoa :

Ya Allah, urapilah aku dengan Roh-Mu, agar aku senantiasa menjalankan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini