“Perayaan Kasih Abadi”: Renungan, Minggu 3 Juni 2018

0
2719

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Kel. 24: 3-8; Mzm. 116: 12-13, 15, 16bc, 17-18; Ibr. 9: 11-15; Mrk. 14: 12-16, 22-26.

Bacaan hari ini mewartakan kasih setia Allah bagi manusia. Berceritera tentang Kasih Tuhan Yesus yang tak terbatas, oleh waktu dan tempat. Sebab, menjelang sengsara dan wafat Yesus mengadakan Perjamuan bersama para murid-Nya, di sebuah ruang atas di Bukit Sion.

Sambil berkata, “Inilah tubuh-Ku”  (Mrk. 14: 22), “Inilah darah-Ku” (Mrk. 14: 24), Yesus menjadikan roti dan anggur sebagai wujud pemberian diri-Nya kepada mereka. Pemberian tubuh dan darah Kristus menjadi meterai perjanjian sebagai ikatan keselamatan. Dengan kata dan tindakan itu, Yesus mengundang semua yang ikut dalam perjamuan untuk bersatu dengan Dia.

Sehingga, roti dan anggur yang disambut dengan iman menjadi meterai kesatuan hidup para murid dengan Tuhan Yesus. Karena itu, siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia.

Pemberian diri Kristus membuat manusia mengalami kasih Allah yang memberi kekuatan yang membebaskan manusia dari perbudakan iblis. Namun pemberian diri Kristus yang penuh kasih telah menjadi kurban salib karena manusia mengingkari janji dan mengkhianati persahabatan dengan Allah.

Walaupun manusia mendurhaka karena tak mau berkurban, namun Allah tetap setia. Yesus sendiri berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang menyerahkan hidupnya bagi sahabat-sahabatnya.” Tuhan Yesus telah melalui jalan salib untuk tetap setia mengasihi dan menyelamatkan manusia yang berkhianat.

Kristus menghendaki agar peristiwa salib yang menyelamatkan itu berlangsung selamanya dalam sejarah umat manusia. Kehadiran Kristus yang menyerahkan tubuh dan darah di salib dinyatakan dalam Ekaristi Kudus. Orang yang merayakan Ekaristi berjumpa dengan Kristus yang mengasihinya.

Ekaristi merupakan tindakan kasih Allah paling agung bagi manusia. Allah menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk mengikat dan memelihara persahabatan dengan manusia. Allah memberikan diri sebagai korban demi melestarikan persahabatan Allah dengan manusia.

Perayaan Ekaristi pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus menjadi saat pembaharuan janji Allah dan umat-Nya. Ekaristi kudus menjadi ungkapan kesetiaan Gereja pada komando Tuhan Yesus. “Aku Tuhan dan Gurumu telah memberikan teladan, hendaklah kamupun berbuat yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Menyambut tubuh dan darah Kristus menjadikan umat satu dan serupa dengan Kristus, dan memberi kekuatan menjadi satu dengan sesama dan mencegah perpecahan umat. Dalam Dia biarpun banyak kita menjadi satu tubuh.

(Pst. Julius Salettia, Pr)

Karena roti itu hanya satu maka kita ini walaupun banyak merupakan satu tubuh”         (1Kor. 10:17)

Marilah berdoa:

Tuhan, berilah kami setiap hari roti yang turun dari surga, tubuh dan darah-Mu agar kami tak pernah terpisah dari pada-Mu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini