“Mudah atau Sulit?”: Renungan, Selasa 26 Juni 2018

0
2387

Hari Biasa (H)

2Raj. 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mzm. 48:2-3a,3b-4,10-11; Mat. 7:6,12-14. 

Kebanyakan orang lebih memilih hidup senang tanpa berkorban sesuatu. Kebahagiaan manusia akan dimiliki ketika ia mampu mengorbankan apa yang ada pada dirinya. Mendapatkan sesuatu berarti siap memberikan sesuatu pula.

Di era milenial ini, banyak orang memilih hidup serba mudah daripada hidup yang membutuhkan banyak pengorbanan. Apa yang diinginkan sangat mudah didapatkan dengan mengandalkan kekayaan.

Inilah realita yang terjadi sekarang. Orang kaya sangat mudah mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi orang miskin sangat sulit mendapatkan apa yang diinginkannya. Untuk makan pun sangat sulit didapatkan. Mudah, tetapi menuju kebinasaan. Sulit, tetapi menuju kehidupan yang abadi. Itulah yang harus manusia renungkan lewat Injil hari ini.

Hidup di zaman now ini, serba gampang. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa hidup demikian akan membawa kita pada kebinasaan. Manusia tidak mempunyai usaha untuk berkorban, untuk bekerja keras dan sebagainya. Yesus mengatakan bahwa manusia akan memperoleh kehidupan yang sebenarnya ketika ia mampu melalui pintu yang sesak dan sempit. Maksud Yesus adalah manusia akan memperoleh kehidupan abadi ketika ia mampu melewati jalan dengan penuh kerja keras, berkorban untuk kehidupan itu.

Hal yang terjadi di zaman ini, manusia hanya mencari yang instan untuk kebutuhannya. Yesus mengatakan bahwa karena lebarlah pintu dan luaslah jalan itu, maka manusia tidak menyadari bahwa tindakannya menuju pada kebinasaan. Ketika manusia mencari sesuatu tanpa usaha keras, jalan satu-satunya yaitu “cari gampang”.

Orang mau menjadi kaya raya tanpa ada kerja keras, tanpa usaha, atau tanpa berkorban, yaitu orang-orang yang kita kenal dengan koruptor, pencuri, dan sejenisnya. Berbeda halnya dengan orang yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan sesuap nasi dan pada akhirnya memperoleh kehidupan abadi.

Hidup yang serba instan, yang tanpa kerja keras akan menuju kepada kebinasaan. Memang kecenderungan manusia mengarahkannya untuk mencari hal yang mudah, namun pada akhirnya memperoleh kebinasaan. Manusia yang penuh kerja keras dan berkorban, pada akhirnya memperoleh kehidupan abadi.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” itulah yang harus kita pegang sebagaimana yang Yesus ajarkan hari ini kepada kita. Ketika kita mau mencari yang senang-senang dahulu, pada akhirnya kita menuju kepada kebinasaan. Tetapi ketika kita mampu menghadapi segala sesuatu yang sulit dan kerja keras kita akan memperoleh kehidupan yang sebenarnya.

(Fr. Marsiano Kaunang)

“Sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat. 7:14).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku memilih jalan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini