“Ketaatan dan Kasih”: Renungan, Selasa 5 Juni 2018

0
3314

Pw S. Bonifasius, UskMrt (M)

2Ptr. 3:12-15a,17-18; Mzm. 90:2,34,10,14,16; Mrk. 12:13-17

Tak putus-putusnya orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menjebak Yesus. Dalam bacaan Injil kita mendengar orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hal membayar pajak. ”Tidak perlu membayar kepada kaisar” adalah jawaban yang dinantikan oleh orang-orang Farisi.

Tetapi Yesus memberikan jawaban yang membuat mereka terkejut dan heran. Yesus berkata, ”Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Dengan jawaban ini orang-orang Farisi tidak mempunyai alasan untuk menangkap Yesus. Tetapi Yesus juga memberikan pelajaran penting bahwa kerajaan yang Ia bangun dan tawarkan kepada manusia bukanlah kerajaan di dunia ini, tetapi Kerajaan Surga.

Yesus ingin mengatakan tentang dua hal penting yaitu ketaatan dan kasih kepada Allah. Jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi menunjukkan sikap ketaatan kepada Bapa. Sikap ketaatan itu hendaknya juga dipegang teguh oleh kita umat beriman.

Ketaatan menjadi dasar untuk bisa setia kepada Allah. Yesus telah menunjukkan teladan itu. Sebagai manusia Ia taat kepada aturan kaisar. Namun lebih dari itu Ia taat kepada Bapa-Nya sampai wafat di salib.

Disamping itu mengasihi juga adalah cara kita taat kepada Allah. Kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi dan kekuatan kita.

Disamping itu kita memberikan juga seluruh diri kita untuk selalu menaati seluruh perintah-Nya. Tanpa kasih maka ketaatan yang dilakukan hanya sebatas kewajiban atau ketakutan. Ketaatan yang dilakukan perlu dibarengi dengan kasih yang tulus.

Hari ini Gereja secara universal merayakan peringatan St. Bonifasius. Ia adalah seorang tokoh iman perintis pewartaan Injil di Jerman. Kasih dan ketaatannya kepada kehendak Allah membuat ia mati sebagai martir.

Kita dapat belajar dari tokoh ini bahwa  pemberian diri secara total kepada Allah adalah panggilan sebagai anak Allah. Allah mempunyai hak untuk dikasihi dan ditaati sebab Dia adalah Allah dan kehendak-Nya adalah jalan untuk kita beroleh keselamatan.

Kita sebagai manusia harus mengasihi Dia. Namun melaksanakan perintah Tuhan itu perlu didasarkan pada kasih Allah dan bukan semata-mata karena kewajiban.

Jika demikian maka akan bersukacita dan berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang sangat suka akan segala perintah-Nya.

(Fr. Petrus Heatubun)

“Berikanlah apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Mrk. 12:17)

Marilah berdoa:

Tuhan, semangatilah kami untuk selalu menaruh cinta kasih kepada-Mu dan kepada sesama kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini