Hari Biasa (H)
1Raj. 21:17-29; Mzm. 51:3-4,5-6a, 11,16; Mat. 5:43-48.
Dewasa ini, persaingan untuk menjadi pemimpin entah dalam masyarakat, agama, kelompok kecil dan bahkan pada keluarga kita sendiri sering kali berhujung pada pertikaian. Orang tidak lagi memandang kesatuan sebagai sesuatu yang diperjuangkan. Tetapi justru memandang sesama sebagai lawan untuk saling menyerang satu sama lain. Akhirnya, menimbulkan berpecahan yang berakhir pada kehancuran.
Di satu sisi, kita mengharapkan seorang pemimpin yang ideal, di sisi lain, seorang pemimpin dalam kepemimpinnya tidak mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Para tokoh Kitab Suci, melalui bacaan-bacaan hari ini mengarahkan kita untuk bercermin dari pengalaman hidup mereka bersama Allah.
Bacaan pertama menampilkan Elia dan raja Ahab dan Izebel. Elia sebagai utusan Allah yang menyempaikan pesan Allah kepada raja Ahab tentang peristiwa kematian Nabot. Nabot menjadi korban kambing hitam. Maka beginilah firman Allah kepada Ahab: “Engkau telah membunuh serta merampas”. Pada akhirnya raja menyesal lalu bertobat. Allah memperhatikan itu. Pengampunan atas Ahab tidak menghapus hukum-Nya.
Bercermin dari raja Ahab, kita dapat melihat bagaimana otoritas/kekuasaan/status dimanfaatakan sebagai kepenuhan kepentingan diri, yang pada akhirnya mengabaikan orang lain. Apalah artinya sebuah kehidupan yang diliputi iri hati dan ujaran kebencian. Bukan lagi memandang orang lain sebagai sesama tapi justru memandang sesama sebagai saingan dan lawan. Kita menjadi tawanan egoisme.
Sikap yang ditampilkan dalam bacaan pertama, berbeda dengan sikap yang ditampilkan oleh Yesus. Ia adalah putra Allah, namun Ia tidak menggunakan otoritas atau kekuasaan-Nya untuk menghakimi orang lain. Ia justru menunjukkan nilai-nilai kehidupan.
Yesus menunjukkan bagaimana orang harus bersikap terhadap sesamanya, agar sikap tersebut berkenan kepada Allah. “Kasihanilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Ini merupakan salah satu syarat untuk menjadi anak-anak Allah. Yesus sendiri mempraktekkan itu menjelang kematian-Nya di kayu Salib.
Suatu prinsip keadilan yang ditunjukkan oleh Yesus. Ia tidak hanya memberikan perintah kepada orang lain, namun perintah itulah yang dilaksanakan-Nya. Allah menerbitkan matahari dan menurunkan hujan kepada semua orang baik yang jahat maupun yang baik, orang yang benar dan orang yang tidak benar. Kasih Allah tidak terbatas. Allah tidak memihak pada orang-orang tertentu. Allah adalah sumber keadilan. Maka sebagai murid Kristus, kita jangan membatasi kasih pada kelompok tertentu saja! Supaya kita menjadi cerminan kesempurnaan.
(Fr. Mogi Saelong)
“Kasihanilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, jauhkanlah kami dari pertikaian dan perselisihan. Amin











