“Bangkit dan Bahagia”: Renungan, Rabu 6 Juni 2018

0
3657

Hari Biasa (H)

2Tim. 1:1-3,6-12; Mzm. 123:1-2a,2bcd; Mrk. 12:18-27

Adakah yang merindukan kebahagiaan? Semua pasti rindu akan hal itu. Apalagi kebahagiaan surga. Siapa yang tidak merindukannya?

Harapan dan impian setiap orang kelak cukup sederhana yaitu bahagia di surga. Mengalami kebahagiaan surgawi berarti mengalami kebangkitan bersama Yesus.

Menarik apa yang dikisahkan oleh penginjil Markus, ketika Yesus bertemu dengan kelompok Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan.

Mereka mengemukakan sebuah kisah tentang seorang perempuan yang dikawini oleh tujuh kakak beradik. Semuanya mati tanpa meninggalkan keturunan.

Lantas bagaimanakah nasib mereka nantinya pada hari kebangkitan? Siapa yang pantas bersanding dengan si perempuan tersebut?

Berhadapan dengan pertanyaan sekaligus keragu-raguan orang Saduki maka Yesus pun menjawab pertanyaan mereka dengan memberikan pelajaran yang berarti tentang perihal kebangkitan.

Bahwa dengan kebangkitan, manusia akan mengalami hidup baru bersama Allah. Bahwa manusia akan berada bersama dengan Allah dalam sebuah kebahagiaan rohani surgawi.

Dalam kehidupan itu, Allah menjadi pusat kehidupan, dan orang memandang dan bertatap muka dengan Allah dalam keabadian.

Keterpesonaan yang ilahi ini akan menghadirkan sebuah realitas yang baru, yaitu bahwa manusia akan memperoleh hidup yang baru, hidup semata-mata terarah pada Allah dan hidup itu bersifat ilahi.

Adapun jiwa akan berpusat pada Allah, orang tidak lagi dipengaruhi dan memikirkan realitas manusiawi duniawi, termasuk persoalan kawin dan dikawinkan.

Orang Saduki mengukur realitas surgawi dengan ukuran duniawi. Mereka mengerdilkan kemahakuasaan Tuhan dengan cara berpikir manusia yang terbatas.

Terkadang kita pun sering mencemaskan kehidupan kita kelak, saat kita membandingkan dengan kenyataan hidup yang kita hadapi sekarang ini. Apakah setelah mati kita akan bertemu dengan orang terdekat kita?

Kehidupan surgawi bukan soal kita akan bertemu dengan orang-orang terdekat tetapi lebih dari itu yakni pertemuan dengan Allah yang memberikan kepada kita rahmat untuk mengenal orang-orang terdekat kita.

Saat ini kita diajak untuk membuka diri pada kemahakuasaan Tuhan dan memberi diri seutuhnya serta terus bersandar pada-Nya. Kita perlu sadari bahwa kebahagiaan bersama dengan Allah melampaui kebahagiaan manusiawi kita, bahwa persoalan tentang kawin hanyalah bersifat sementara saja.

Yang penting bahwa perjumpaan dengan Allah dalam Kerajaan-Nya akan membuat kita mengalami kebahagiaan surgawi yang abadi.

Kebahagiaan yang tak berkesudahan, bahwa Allah selalu memperhatikan serta memberikan hidup yang abadi yakni hidup bersama Dia dalam Kerajaan-Nya.

(Fr. Yakobus Balia)

“Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (Mrk. 18:27)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bangkitkanlah iman dan harapku untuk selalu merindukan kebahagiaan surgawi. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini