Hari Biasa Pekan VI Paskah (P).
Kis. 18:9-18; Mzm. 47:2-3,4-5,6-7; Yoh. 16:20-23a.
Habis gelap terbitlah terang. Pepatah klasik dari pahlawan R.A Kartini yang masih relevan sampai sekarang. Untuk mencapai kegembiraan, sukacita dan bahagia banyak peristiwa ‘gelap’ atau tantangan yang dilalui. Bisakah dengan berani kita menghadapi tantangan itu? Ataukah kita menyerah di tengah jalan?
Bacaan pertama, Mazmur dan Injil menguatkan kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan putra-putriNya. Allah selalu mendampingi, menemani siapa saja yang mengandalkan-Nya. Ditegaskan dalam Injil bahwa kita akan bahagia setelah mengalami tentangan dan penderitaan. Bahkan akan memberikan yang terbaik asalkan mau meminta. Masa Prapaskah telah kita lalui sebagai langkah untuk mengalami sukacita keselamatan. Membatasi keinginan yang berlebihan, mengontrol hawa nafsu dan tingkah laku merupakan tantangan yang perlu dihadapi. Memang tidak mudah. Namun perlu dilakukan untuk bisa menikmati keselamatan lewat sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Karena itu kita bisa mengalami Paskah dengan sukacita. Apakah itu semua murni usaha kita?
Penginjil Yohanes menegaskan bahwa dukacita mendahului kemenangan. “Seperti seorang perempuan yang berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia (Yoh.16:21). Usaha yang kita lakukan tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan peristiwa yang harus dialami oleh Yesus. Hal itulah yang dialami oleh Yesus. Dukacita yang dialami-Nya adalah bentuk perjuangan untuk keselamatan manusia. Siapa yang bisa melebihi dukacita yang dialami-Nya? Yesus pun mengalami dukacita sebelum mengalami kemenangan atas dosa manusia.
Demikian juga Rasul Paulus telah membuktikannya bahwa untuk menikmati sukacita, harus mengalami dukacita. Pewartaan Injil tidak diterima begitu saja. Apalagi di kalangan orang-orang Korintus. Namun karena janji Allah, Rasul Paulus dengan berani tetap mewartakan Injil. “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!” (Kis.18:9). Janji Allah meyakinkan Paulus untuk tidak takut dan tidak menyerah di tengah jalan namun dengan berani terus mewartakan Injil.
Kegigihan dan ketekunan akan menghantar orang pada sukacita dan kebahagiaan. Namun jalan yang dilalui tidak selalu mulus. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Seperti Yesus yang mengalami dukacita sehingga kita bisa menikmati sukacita, demikian juga hidup kita. Apalah artinya jika Yesus tidak mengalami dukacita itu? Kita akan hancur karena dosa-dosa. Jangan menyerah, ada terang menantimu!
(Fr. Fransiskus Ivandi Panda Raja)
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku” (Yoh.16:23).
Marilah berdoa:
Tuhan, temani dan tuntunlah langkahku selalu. Amin.











