“Pengorbanan Demi Cinta”: Renungan, Selasa 29 Mei 2018

0
5644

Hari Biasa (H)

1Ptr. 1:10-16; Mzm. 98:1,2-3ab,3c-4; Mrk. 10:28-31

Ketulusan sebuah cinta dapat dinilai dan diukur dengan pengurbanan. Tak usah jauh-jauh kita mencari contoh dan perbandingannya, karena hal tersebut telah dibuktikan oleh orangtua kita sendiri. Kasih sayang yang tulus dari orangtua dan keinginannya yang sangat besar untuk keberhasilan anaknya, itulah yang membuat orangtua berjuang mati-matian demi anaknya.

Ironisnya, orangtua harus banting tulang, bahkan ada orangtua yang sedang sakit berat namun harus tetap bekerja keras untuk mencari upah, dan mempertaruhkan harta keluarga untuk membiayai kebutuhan masa depan anaknya. Itulah contoh arti sebuah pengorbanan. Sungguh menyakitkan. Namun ketulusan hati menjadikan pengurbanan itu sangat bernilai.

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa jika ingin menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita harus rela berkurban. Seseorang harus meninggalkan segalanya atau semua orang, sehingga dapat mengikuti Yesus dengan total. Semangat rela berkurban demi mengikut Yesus menghantar kita pada bayang-bayang salib di dalam kehidupan kita. Memang sebagai orang Kristen, salib tak terelakkan. Salib-salib tersebut adalah pelbagai tantangan hidup.

Dunia zaman sekarang menawarkan pelbagai kenikmatan bagi manusia: uang, jabatan, pekerjaan bergengsi, kekuasaan, kehormatan dan hawa nafsu. Hal-hal tersebut akan menarik kita semakin menjauh dari ketergantungan terhadap Allah sebagai sumber sejati kehidupan kita, sekarang dan kelak. Oleh karena itu, semangat pengurbanan dan kepenuhan hati untuk mengikut Yesus harus senantiasa diperjuangkan demi menerima upahnya, yakni kehidupan kekal.

Yesus menunjukkan jalan yakni dengan meninggalkan rumah-Nya, keluarga, dan milik-Nya. Namun yang Yesus maksudkan bukan dalam arti harafiahnya, melainkan kita harus terlepas dari segala ikatan dan kepunyaan kita yang membuat kita melupakan Allah dan semakin jauh dari Allah.

Pertanyaan yang pantas kita renungkan adalah mengapa kita harus meninggalkan segalanya demi Yesus Kristus? Jawabannya ialah agar kita bisa fokus hanya kepada Kristus dan mencintai-Nya lebih dari segala sesuatu. Dan dengan cinta kita itulah maka kita harus siap berkurban demi Kristus, sebagaimana Ia rela berkurban bahkan mati di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita.

Seperti kata Uskup Ambon, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC dengan mottonya yang terkenal yakni “Nil Nisi Christum”, tiada lain selain Kristus. Kita harus menjadi pengikut Kristus yang militan dalam dunia sekarang ini. Dengan begitu kelak kita akan menerima upah seorang pengikut Kristus yang sejati, yaitu kehidupan bahagia nan kekal.

(Fr. Itho Silap)

“Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau” (Mrk. 10:28).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah kami agar siap berkurban demi mengikuti Engkau. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini