“Indah Tapi Palsu”: Renungan, Jumat 1 Juni 2018

0
2458

Pw. S. Yustinus, Mrt (M)

1Ptr. 4:7-13; Mzm. 96:10,11-12,13; Mrk. 11:11-26

Ketika kita menghiasi rumah kita dengan bunga plastik, dari kejauhan orang akan memandang dan mengatakan indah. Namun, ketika mendekat keindahan itu sirna.

Sebab, apa yang dipandang dari kejauhan belum tentu terlihat asli. Ternyata keindahan itu dihiasi dengan bunga plastik dan bukan bunga hidup.

Dalam bacaan Injil, Yesus menekankan sikap kasih atau saling mengasihi satu dengan yang lain. Sikap yang Yesus butuhkan adalah mengasihi dengan sungguh-sungguh.

Hal ini terungkap saat Yesus bersabda: “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” Dengan demikian, kasih dapat mengalahkan segalanya karena hukum Yesus yang terutama adalah cinta kasih.

Dalam bacaan Injil hari ini, sikap cinta kasih yang Yesus tunjukkan kepada para murid sangat nyata. Tindakan itu dilakukan Yesus dengan memperhatikan Bait Allah sehingga Yesus mengusir para pedagang yang berjualan di sekitar Bait Allah.

Sebab, ada tertulis: “Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!”

Selain sikap cinta kasih yang Yesus tunjukkan, ada juga sikap kepercayaan. Ketika  merasa lapar Yesus melihat pohon ara yang dihiasi dengan banyak daun. Ketika mendekat tidak ada buah di pohon tersebut.

Pada saat itu juga Yesus mengutuk pohon tersebut kata-Nya: “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya. Kutukan terhadap pohon ara itu menggambarkan sikap ketidakpercayaan orang Israel, pohon ara yang tak berbuah.

Namun, Yesus menguatkan iman para murid. Petrus berkata: “Rabi, pohon yang Engkau kutuk sudah kering.” Perkataan Petrus ini menandakan bahwa apa yang Yesus katakan adalah benar. Dari situ, Yesus mengatakan kepada para murid untuk percaya kepada Allah.

Ada dua sikap yang Yesus ajarkan kepada kita lewat bacaan-bacaan hari ini yakni sikap cinta kasih dan kepercayaan. Salah satu syarat penting dalam hal mencintai adalah kepercayaan.

Maka percayalah kepada Allah sebab Dialah sumber segala cinta. Bila kita percaya kepada Allah maka kita akan mencintai Allah dengan tulus.

Cinta yang serupa juga mesti kita bagikan kepada sesama, agar rahmat Allah terus mengalir dalam hidup kita dan hidup kita bertumbuh subur, berdaun rindang dan berbuah manis.

(Fr. Mesak Wermasubun)

“Percayalah kepada Allah!” (Mrk. 11:22)

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga Aku percaya dan mengasihi Engkau lebih dari segala sesuatu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini