Hari Biasa Pekan III Paskah (P)
Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh. 6:35-40.
Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. Kebebasan dapat dilihat dari 2 sudut pandang yakni “bebas dari” dan “bebas untuk”. “Bebas dari” maksudnya bebas dari hal-hal yang mengikat dirinya, paksaan, ancaman dan lain sebagainya. Artinya tidak ada yang mengekang dari pihak luar. Sementara, “bebas untuk” mau menunjukkan bahwa manusia bebas melakukan apa saja yang baik bagi dirinya. Namun, dalam kebebasan manusia itu ada arah dan tujuan hidup yang harus dijalani. Ini membawa manusia pada pilihan bebas untuk menentukan kehidupannya.
Injil hari ini menegaskan bahwa percaya kepada Yesus merupakan hal mendasar bagi manusia. Seperti yang disabdakan-Nya bahwa barangsiapa yang datang kepada-Nya tidak akan lapar lagi dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak akan haus lagi. Yesus menginginkan supaya semua orang selamat, supaya tidak ada orang yang hilang. Tentunya, keselamatan itu akan hadir berdasarkan pilihan bebas manusia. Manusia bebas menentukan apa yang baik bagi dirinya. Demikian juga, menanggapi tawaran keselamatan dari Yesus adalah pilihan bebas bagi kita. Kita bebas untuk menerima atau menolak tawaran keselamatan dari Yesus.
Namun, harus diingat bahwa pilihan selalu membawa konsekuensi. Kerinduan terdalam kita sebagai umat beriman kepada Yesus adalah menghadap wajah Allah secara langsung. Memilih untuk datang dan percaya kepada Yesus membawa konsekuensi bahwa kita akan bersatu dengan-Nya. Begitu pula sebaliknya, ketika kita memilih untuk tidak percaya kepada-Nya, konsekuensinya yakni kita akan jauh dari kasih-Nya. Kita akan menjadi orang yang hilang.
Yesus turun dari surga membawa pengharapan bagi umat manusia. Suatu pengharapan baru kepada kita, yakni jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Hal itu terungkap dalam sabda-Nya bahwa: “Barangsiapa datang kepada-Ku tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku tidak akan haus lagi.”
Dua tindakan manusia yang dibutuhkan dalam ungkapan itu ialah datang dan percaya. Hal ini membutuhkan inisisatif dari diri kita sendiri untuk mau datang dan mau percaya kepada Yesus, sebab Ia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya, melainkan kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Inisiatif itu pun tergantung dari pilihan kita!
(Fr. Bala Sumarre)
“Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikannya kepada-Ku jangan ada yang hilang” (Yoh. 6:39a).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, berkatilah aku agar memilih keselamatan yang datang dari pada-Mu melalui Yesus, Putera-Mu, Tuhan kami. Amin.











