“Pentingnya Mengenal” Renungan, Sabtu 28 April 2018

0
2522

Hari Biasa Pekan IV Paskah (P).

Kis. 13:44-52; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd4; Yoh. 14:7-14. 

Sebuah ungkapan yang tidak asing yang sering kita dengar, “tak dikenal, maka tak disayang”. Hal ini menandakan bahwa betapa penting, kita dikenal dan mengenal. Agar relasi kasih bisa mewujud dalam hidup sosial kita dengan sesama. Dan terlebih penting pula, sikap mau mengenal adalah cara terbaik kita menunjukkan identitas kita. Maka ungkapan di atas mau memberi satu penegasan bahwa dikasihi dan mengasihi adalah buah dari pengenalan itu.

Bacaan hari ini juga mempertegas pentingnya sikap mengenal itu. Mengapa? Karena dari mengenal kita akan memahami setiap misteri yang tidak kita ketahui. Dan sikap mengenal inilah yang mau ditegaskan Yesus, jika kita sungguh ingin mengetahui identitas Yesus. Maka ungkapan Yesus, “sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku”, mau memberi keyakinan kepada para murid suatu identitas dari Allah yang tak diketahui manusia. Bahkan menjadi sebuah hal terindah, karena Yesus sendiri yang memberi penegasan akan misteri dari identitas Allah.

Ungkapan Yesus mengenai pentingnya kita mengenal adalah sebuah tanda sukacita yang telah diwartakan oleh Paulus ketika orang yang belum mengenal Allah menjadi percaya. Dan terlebih lagi, Yesus mengharapkan kita untuk mengenal Dia, agar supaya kita sungguh mengenal siapa dan mengapa Allah begitu mengasihi kita. Tetapi, kasih-Nya ingin diperkenalkan kepada kita, jika pendasarannya, kita percaya akan apa yang diwartakan-Nya. Dan kepercayaan itulah yang akan memberi keyakinan kepada kita bahwa Allah ada dalam kita, kita dalam Dia dan apa pun yang kita minta akan dinyatakan.

Oleh sebab itu, penegasan Yesus dalam bacaan injil mempertegas bahwa untuk sebuah kebahagiaan, dikasihi sebagai anak Allah, maka hal penting kita mampu mengenal Kristus dan percaya akan segala kebenaran dari pewartaan-Nya. Dengan kata lain, sebuah kasih dari Allah akan nampak atau peroleh, apabila kita sungguh mengenal dan percaya bahwa Allah itu penuh kasih dan penyelamat bagi hidup kita. Karena sebuah keselamatan bukan saja ketika kita mampu mengenal, tapi juga percaya akan kesaksian yang diperdengarkan kepada kita tentang identitas Allah. Maka, kepercayaan itulah yang akan menyelamatkan kita dan membuka jalan bagi kita dipermuliakan sebagai anak-anak Allah kelak nantinya.

(Fr. Bernardus Fangohoi)

“…Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan” (Yoh 14:12b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan tambahkanlah iman kami untuk sungguh-sungguh percaya akan segala pewartaan kebenaran-Mu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini