“Kesaksian Iman”: Renungan, Selasa 24 April 2018

0
3080

Hari Biasa Pekan IV Paskah (P).

Kis. 11:19-26; Mzm. 87:1-3,4-5,6-7; Yoh. 10:22-30. 

Kepercayaan merupakan hal yang berharga yang dapat kita berikan kepada orang lain atau pula dapat kita terima dari orang lain. Perkataan tidak cukup untuk sebuah kepercayaan melainkan harus ada pembuktian melalui tindakan nyata. Sebab perkataan tanpa perbuatan adalah sia-sia. Lebih penting lagi jika kita mengenal seseorang tidak hanya lewat perkataan tapi juga perbuatan. Maka, orang yang memiliki perkataan yang baik dan dibarengi dengan perbuatan yang selaras, dia bukan saja dikenal tapi dikenang.

Injil hari ini mengisahkan perjumpaan orang-orang Yahudi dengan Yesus di Bait Allah, serambi Salomo. Dalam perjumpaan ini mereka meminta kepastian dari Yesus sendiri bahwa Dia adalah Mesias. Ketidakpastian yang sedang menggeroti hati orang-orang Yahudi disebabkan karena mereka tidak mampu melihat dengan hati yang murni kesaksian-kesaksian Kristus sendiri yang sebenarnya telah dan sedang berlangsung dalam kehidupan mereka saat itu. Orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang tuli mendengar dan orang mati dibangkitkan. Lantas, apakah masih belum cukup kesaksian ini bagi mereka?

Ketika orang-orang Yahudi meminta jawaban dari Yesus, Dia sendiri secara terang-terangan berkata, “Aku telah mengatakannya kepadamu”. Kata “mengatakan” bukan hanya berarti mengungkapkan melalui perkataan namun dalam perbuatan. Ketidakpekaan menghasilkan ketidakpercayaan akan Tuhan, inilah yang dialami oleh orang-orang Yahudi. Mereka tidak mampu melihat dengan hati yang tulus kehadiran Allah dalam diri Kristus.

Injil hari ini menegaskan ketulusan hati manusiawi sebenarnya adalah sarana yang paling intens terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita. Ketulusan ini membawa kita kepada kepekaan akan rencana-rencana Allah dalam kehidupan kita. Maka kita diajak untuk selalu membuka hati kita pada Sabda dan kehendak Allah.

Bacaan pertama tadi mengisahkan sukacita yang dialami oleh jemaat di Antiokhia karena pemberitaan injil bagi semua orang. Hal yang menarik bagi kita adalah perbedaan kepercayaan antara orang Yahudi zaman Yesus dengan umat Kristen zaman para Rasul. Kepercayaan umat Kristen zaman para Rasul adalah sikap iman yang perlu diteladani. Sebab tanpa melihat dan menyaksikan perbuatan Yesus secara langsung mereka percaya dan menyatakan kepercayaan ini dalam perbuatan yakni mewartakan injil bagi semua orang di Antiokhia. Mereka mampu melakukan hal tersebut karena mereka mampu membuka hati akan sabda dan kehendak Allah. Dengan demikian seluruh hidup mereka menjadi pewartaan karena merupakan bentuk kesaksian iman yang senantiasa hidup.

(Fr. Ekaristho Silap)

 

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh 22:27)

Marilah berdoa:

Ya Bapa mampukanlah aku untuk mendengar sabda dan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini