“Beranikah Kita Diutus?”: Renungan, 16 Maret 2018

0
3377

Menjadi seorang pemimpin memang tak mudah. Ada begitu banyak tanggung jawab yang mesti dipegangnya. Selain itu, ada pelbagai tantangan yang mesti dihadapi, salah satunya tidak diterima oleh sebagian anggotanya, jika ia tidak menjadi pilihan mereka. Akan tetapi, sebenarnya kehadiran seorang pemimpin tentu ingin membawa terang bagi anggota-anggotanya.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan hal yang sama. Orang-orang Yahudi mempertentangkan kedatangan Yesus. Namun menanggapi hal ini, Yesus tidak diam. Yesus menjelaskan maksud kedatangan-Nya bahwa Ia datang bukan atas kehendak-Nya sendiri, tetapi diutus oleh Dia yang tidak mereka kenal. Dengan ini ada tiga sikap sederhana yang mau Yesus tunjukkan. Pertama: kesiapan. Yesus merupakan orang yang siap akan pengutusan. Ia tidak lagi melakukan tawar menawar dengan Dia yang mengutus Yesus. Kesiapan Yesus menunjukkan keberanianNya untuk menghadirkan sukacita bagi banyak orang kendati Ia mau dibunuh orang- orang Yahudi. Kedua: ketaatan. Yesus merupakan orang yang taat, karena ketika diutus Yesus tidak menolak akan pengutusannya atau memberikan berbagai alasan penolakan. Ketaatan Yesus menampilkan kepatuhan dan kesetiaan-Nya kepada Dia yang adalah Bapa yang mengutus-Nya. Ketiga: rasa tanggung jawab. Yesus merupakan orang yang bertanggung jawab karena dengan adanya pengutusan, Yesus mengemban misi dan tugas yang sangat besar, yakni mewartakan kabar gembira di tengah gaya hidup orang-orang Yahudi yang ingin menanyakan asal Yesus dan malahan ingin membunuh-Nya. Pewartaan Yesus jelas ketika Ia mengajar di Bait Allah dan di sana Ia menjelaskan apa alasan sehingga Ia hadir di situ.

Kesiapan, ketaatan dan rasa tanggung jawab merupakan tiga sikap sederhana yang Yesus harapkan dari kita. Lantas apakah sejauh ini kita telah menghidupi ketiga sikap ini? Alasannya ketiga sikap ini memiliki satu sasaran yang sama yakni pengutusan. Pengutusan menjadi tak berarti ketika tiga sikap ini tak ada di dalamnya. Sebaliknya, pengutusan menjadi berarti dan mudah ketika ada tiga sikap ini di dalamnya. Tetapi pengutusan juga menjadi hal yang sulit ketika ketika kita diutus, pengutusan kita tidak diterima malahan ditentang. Berhadapan dengan sikap ini, bagaimana kita memposisikan diri kita?

Sebagai seorang Kristiani, pengutusan menjadi sarana untuk mewartakan kesaksian Injil sehingga banyak jiwa dapat memperoleh keselamatan. Kendati kita ditentang atau tidak diterima, kita mesti selalu siap, taat dan bertanggung jawab. Lantas sudah beranikah kita untuk diutus?

(Fr. Ekaristho Gerhani Silap)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini